GOSIPGARUT.ID — Bagi seorang musisi, nge-jam alias main musik bareng adalah hal yang menyenangkan dan memberikan sensasi tersendiri. Apalagi, selain bisa menjadi media menyalurkan hobi, aktivitas ini kadang juga membuka peluang seseorang mengenal musisi lain lewat musik.
Karenanya tidak heran jika banyak musisi yang akan mencari tempat nge-jam dengan musisi lain dengan aliran musik yang sama meskipun mereka sedang berada di luar kota.
Seperti yang dikatakan Geung, drummer ini mengaku sangat senang saat Desa Mulyasari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, sudah punya wadah untuk nge-jam bareng. Karena biasanya ia hanya bisa melihat hal seperti itu di kota-kota besar.
“Mulyasari melalui Sabuga itu perlu wadah untuk beraktivitas, dan adanya tempat nge-jam ini. Kita bisa main dan sharing bareng. Kalau mau cari panggung agak susah, dan udah ada wadah gini kan enak,” katanya.
Tidak hanya Geung tetapi bagi Rizky, sebagai seorang vokalis, hal inilah yang ditunggu-tunggunya. Karena baginya, peminat musik terutama rock cukup banyak. Jadi saat mereka ingin menyalurkan minat ke musik sudah ada wadahnya.
“Kalau saya nge-jam paling beberapa kali sama teman. Itu pun saat event tertentu. Jadi kalau mau main suka ribet, harus sewa rental studio atau nunggu pas ada job. Kalau ada wadahnya jadi lebih enak tanpa harus ribet lagi,” ujarnya.
Hal yang sama juga dikatakan Adam Gitar, bahwa kaula muda Desa Mulyasari membutuhkan wadah untuk nge-jam. Karena ini bukan sekadar hobi tetapi lebih ke gaya hidup mereka yang suka musik.
“Tidak perlu panggung, kadang di tempat apapun bisa nge-jam. Dan kebetulan suka sama rock, jadi jenis musik ini bisa dinikmati di manapun,” ujarnya.
Nge-jam asal kata dari “jam session”, istilah yang pertama kali populer di kalangan musisi jazz, yang artinya adalah kesempatan. Kesempatan untuk bermain dengan musisi lainnya. Dengan kegiatan ini kita bisa saling beradaptasi antarpemusik lainnya, juga saling sharing tentunya. (Adam Bagaskara)



.png)










