GOSIPGARUT.ID — Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kabupaten Garut diwarnai aksi demonstrasi mahasiswa pada Rabu, 28 Oktober 2026. Aksi evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini menyita perhatian lantaran kontrasnya skala pengamanan dengan jumlah massa di lapangan.
Meski peserta aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemuda Garut Bersatu itu berjumlah kurang dari 100 orang, Kepolisian Resor Garut menerjunkan tak kurang dari 473 personel gabungan dari unsur Polri, TNI, dan Pemerintah Kabupaten Garut.
Massa memulai pergerakan dari Bundaran Simpang Lima Garut, bergeser ke Kantor Bupati Garut, dan mengakhiri unjuk rasa di Gedung DPRD Kabupaten Garut. Di bawah pengawalan ketat aparat, mahasiswa menyuarakan agenda bertajuk “5 Perintah Rakyat”.
Tuntutan tersebut mencakup lima isu mendasar: krisis lingkungan, pengelolaan anggaran dan ekonomi, kualitas pendidikan serta layanan dasar, penegakan hukum, hingga penuntasan kasus KKN, pelindungan HAM, dan penguatan demokrasi yang dinilai kian mengkhawatirkan.
Kepala Kepolisian Resor Garut AKBP Niko Adiputra beralasan, pengerahan ratusan personel dilakukan untuk menjamin penyampaian aspirasi berjalan kondusif tanpa mengganggu mobilitas warga. Pengamanan difokuskan di tiga titik utama yang menjadi rute pergerakan massa.
“Sebanyak 473 personel kami turunkan untuk melakukan pengamanan, melibatkan unsur Polri, TNI, dan pemerintah daerah,” kata Niko, Rabu, 28 Oktober 2026.
Petugas juga memberlakukan rekayasa lalu lintas secara situasional saat massa berpindah lokasi. Polisi memastikan tidak ada penutupan jalan secara menyeluruh di pusat kota Garut.
“Tidak ada pemblokiran jalan sama sekali. Arus lalu lintas tetap berjalan normal,” ujar Niko menambahkan.
Tak hanya mengawal pergerakan massa, polisi melancarkan langkah antisipasi dengan mendatangi fasilitas pendidikan di sekitar jalur demonstrasi. Petugas menyambangi sedikitnya empat sekolah—salah satunya SMK 12 Garut—guna berkoordinasi dengan pihak sekolah agar siswa tak ikut turun ke jalan.
Meski aksi berlangsung tertib dan terkendali tanpa penutupan jalan utama, kontrasnya jumlah armada pengaman dengan barisan mahasiswa yang relatif sedikit memperlihatkan ketatnya ruang pengawasan terhadap penyampaian aspirasi publik di daerah. (Yuyus)
























