GOSIPGARUT.ID — Di bawah langit cerah Cisewu, suara musik senam terdengar menggema dari kawasan Jalan Purwabhakti, jantung Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Puluhan perempuan berbaju ungu, bercelana hitam, dan bertopi putih tampak bersemangat mengikuti gerakan senam diiringi tawa riang.
Namun pagi itu, Minggu (26/10/2025), mereka bukan sekadar berolahraga. Komunitas senam Rose Club Cisewu tengah merayakan ulang tahunnya yang keenam dengan cara berbeda — membersihkan Balongsirah, kolam legendaris yang menjadi ikon “Kota Seribu Mata Air”.
“Balongsirah belakangan tertutup eceng gondok dan rumput liar. Kami ingin ikut menjaga keindahannya,” ujar Ketua Rose Club, Hj. Tita Ratna Riani, di sela kegiatan.
Sejak pukul 07.30 WIB, para anggota Rose Club yang sebagian besar ibu rumah tangga itu sudah berkumpul di sekitar Balongsirah. Mereka membawa peralatan sederhana: serokan, karung, dan ember. Bersama warga RW 01, mereka bergotong royong mengangkat tanaman air yang menutupi permukaan kolam.
Dari Senam ke Aksi Lingkungan
Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT Rose Club. Selain senam massal dan aksi peduli lingkungan, mereka juga menggelar karaoke, permainan ringan, pembagian hadiah, dan santunan kepada kaum duafa.
“Ulang tahun ini kami isi dengan kegiatan yang punya nilai manfaat,” kata Tita. “Senam itu menjaga tubuh tetap sehat, tapi menjaga lingkungan membuat hati juga ikut sehat.”
Rose Club berdiri enam tahun lalu sebagai wadah aktivitas olahraga perempuan Cisewu. Dalam perjalanannya, komunitas ini kerap mengadakan kegiatan sosial, mulai dari donor darah hingga kampanye kebersihan lingkungan.

Balongsirah, Simbol Cisewu yang Perlu Dijaga
Balongsirah dikenal sebagai kolam alami yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Cisewu. Letaknya di tengah pedesaan dengan udara sejuk dan pemandangan hijau membuat tempat ini menjadi titik favorit warga untuk bersantai.
Airnya yang jernih, pepohonan rindang di sekitarnya, serta suasana tenang menjadikan Balongsirah disebut sebagai “permata tersembunyi” Garut Selatan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan eceng gondok dan rumput liar mulai mengganggu keindahannya.
“Kalau dibiarkan, lama-lama airnya tidak terlihat lagi,” kata Tita. “Karena itu, kami ingin memberi contoh bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana.”
Usai membersihkan kolam, para anggota Rose Club melanjutkan acara dengan senam bersama dan hiburan sederhana di tepi Balongsirah. Beberapa warga turut menonton dan bertepuk tangan ketika kolam yang semula hijau tertutup tanaman mulai tampak kembali berkilau.
“Bersih-bersih ini bukan hanya untuk hari ini,” ujar Tita. “Kami berharap ke depan kegiatan seperti ini bisa rutin dilakukan bersama warga.” ***



.png)





