GOSIPGARUT.ID — SMK Nuurul Muttaqin di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, menjadi salah satu sekolah menengah kejuruan swasta yang mengedepankan keseimbangan antara keterampilan akademik dan pendidikan karakter berbasis keagamaan. Di tengah persaingan ketat dunia pendidikan, sekolah ini punya cara berbeda: setiap siswa wajib memulai hari dengan mengaji.
Setiap pagi, sebelum masuk kelas, siswa mengikuti program yang disebut Trans 7—tadarus setiap pukul 07.00 WIB, dilanjutkan salat duha berjamaah. Rutinitas ini bukan sekadar formalitas. Ada juga kultum, tahfidz, dan tahsin yang digelar secara terstruktur. Siswa yang belum bisa membaca Al-Qur’an diarahkan mengikuti program Tahsin, sementara yang sudah fasih masuk program Tahfidz.
“Banyak siswa yang mendaftar ternyata belum bisa membaca Al-Qur’an, sehingga kami siapkan pengajar khusus dari LPQ (Lembaga Pendidikan Qur’an) untuk Tahsin, empat jam per minggu,” kata Kepala SMK Nuurul Muttaqin, Dasep Gunawan, kepada GOSIPGARUT.ID, Minggu (24/8/2025).
Tak hanya itu, sejak pra-pendaftaran, calon siswa wajib mengikuti tes baca Al-Qur’an. Hasilnya menjadi acuan untuk menentukan apakah mereka masuk Tahsin atau Tahfidz. “Target kami, minimal saat lulus mereka sudah lancar membaca Al-Qur’an, bahkan hafal beberapa juz,” imbuh Dasep.
Saat ini, SMK Nuurul Muttaqin memiliki 650 siswa dengan empat jurusan unggulan: Desain Komunikasi Visual (DKV), Perkantoran, Pemasaran, dan Otomotif. Selain fokus pada akademik dan keagamaan, sekolah juga membuka ruang untuk pengembangan minat dan bakat melalui kegiatan intra, ekstra, dan kokurikuler.
Namun, tak bisa dimungkiri, kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PAPs) Gubernur Jawa Barat yang menambah rombongan belajar (rombel) di sekolah negeri membuat jumlah pendaftar SMK swasta tergerus. “Sebelumnya kami bisa buka delapan kelas. Sekarang turun jadi lima kelas karena orang tua lebih memilih sekolah negeri,” ungkap Dasep.
Meski demikian, pihak sekolah tetap berkomitmen memberi kesempatan pendidikan untuk siswa dari keluarga tidak mampu. “Operasional sekolah swasta 70 persen ditopang yayasan, 30 persen dari pemerintah. Kami tetap prioritaskan hak siswa miskin, bahkan ada skema beasiswa dan keringanan biaya,” jelasnya.
Dasep menegaskan bahwa setiap kebijakan terkait biaya selalu melalui musyawarah dengan orang tua. “Sekolah swasta memang butuh dukungan orang tua. Dana BOS dan BPMU dari pemerintah belum cukup, bahkan BPMU sampai sekarang belum cair,” ujarnya.
Dengan perpaduan keterampilan kejuruan, pendidikan agama, dan pembentukan karakter, SMK Nuurul Muttaqin tampak ingin mencetak generasi yang bukan hanya siap kerja, tetapi juga berakhlak. (Ai Karnengsih)



.png)











