Berita

80 Tahun RI Merdeka, Masih Ada Anak-anak Garut Selatan Jalan Kaki Belasan Kilometer ke Sekolah

×

80 Tahun RI Merdeka, Masih Ada Anak-anak Garut Selatan Jalan Kaki Belasan Kilometer ke Sekolah

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI -- Masih ada anak-anak di Garut Selatan jalan kaki belasan kilometer ketika pergi ke sekolah.

GOSIPGARUT.ID — Menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025, potret kesenjangan akses pendidikan dan infrastruktur dasar masih membayangi sejumlah pelosok negeri. Salah satunya terjadi di Garut Selatan, tepatnya di Kampung Cibeureum, Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet.

Puluhan anak di kampung tersebut setiap hari harus menempuh perjalanan ekstrem sejauh 10 hingga 18 kilometer pulang-pergi demi bisa mengenyam pendidikan dasar dan menengah. Jalan yang mereka lewati bukan jalan biasa, melainkan medan perkebunan terjal yang menjadi habitat ular dan babi hutan.

Tercatat sebanyak 27 anak dari Kampung Cibeureum bersekolah di SD yang terletak di Kampung Cikubang, Desa Margamulya; 7 anak lainnya bersekolah di SMP Negeri 3 Cisompet di Desa Neglasari; dan sisanya di SMA Negeri 22 Garut. Selain anak-anak, warga umum pun terdampak, terutama saat membutuhkan akses layanan kesehatan, termasuk ibu yang hendak melahirkan.

Baca Juga:   Pria Pelempar Sperma di Tasikmalaya Terancam 2 Tahun Bui

Perjuangan ini berlangsung setiap hari di Kampung Cibeureum, wilayah pegunungan di Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut. Aktivitas ekstrem anak-anak sekolah ini berlangsung sejak lama dan masih terus terjadi hingga kini, Minggu (3/8/2025), seperti diungkapkan sejumlah warga.

Mengapa mereka harus berjalan kaki sejauh itu?

Kondisi jalan yang rusak parah serta medan yang curam membuat kendaraan bermotor tidak memungkinkan digunakan. Biaya ojek pulang pergi sebesar Rp60.000 juga tidak terjangkau oleh warga, yang mayoritas bekerja sebagai buruh dengan penghasilan kurang dari Rp50.000 per hari.

Baca Juga:   Operasi Zebra Lodaya di Garut Terapkan Tilang Manual dan ETLE, Pelanggar Didominasi Sepeda Motor

Anak-anak ini harus berangkat sejak subuh dengan membawa senter karena kondisi masih gelap. Saat musim hujan, mereka harus mengenakan jas hujan dan membungkus sepatu dengan plastik untuk melindungi kaki dari lumpur dan banjir. Ancaman binatang buas seperti ular dan babi hutan pun menjadi risiko yang harus mereka hadapi setiap hari.

Dede (45), seorang karyawan perkebunan setempat, mengaku kerap berpapasan dengan anak-anak tersebut. “Kasihan melihat mereka harus berangkat subuh-subuh ketika matahari belum terbit. Apalagi kalau hujan deras, mereka tetap berangkat, jalanan licin, sepatu dibungkus plastik, sedih melihatnya,” ujarnya.

Baca Juga:   80 Koperasi Bakal Jadi Model Percontohan, Wamendagri: Salah Satunya Kopdes Karamatwangi di Garut

Tokoh masyarakat setempat, Agus Sambas (43), menambahkan bahwa jalan rusak juga berdampak pada akses warga ke layanan kesehatan dan ekonomi. “Masyarakat berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi ini, terutama untuk pembangunan jalan yang layak,” ungkapnya.

Delapan dekade setelah Indonesia merdeka, potret seperti di Kampung Cibeureum menjadi pengingat bahwa kemerdekaan sejati belum sepenuhnya dirasakan di seluruh pelosok negeri. Jalan kaki sejauh belasan kilometer, dengan segala risikonya, menjadi harga yang harus dibayar demi cita-cita dan masa depan. (Ai Karnengsih)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *