Tokoh

Sahabat Kenang KH. Sirojul Munir: Ulama yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Mengajar

×

Sahabat Kenang KH. Sirojul Munir: Ulama yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Mengajar

Sebarkan artikel ini
Ketua MUI Garut, KH Sirojul Munir. (Foto: Istimewa)

GOSIPGARUT.ID — Kabar wafatnya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, KH. Sirojul Munir, pada Rabu (30/7/2025) siang, meninggalkan luka mendalam bagi para sahabat dan tokoh masyarakat Garut. Di antaranya, H. Nanang, S.H., Wakil Ketua MUI Garut sekaligus sahabat lama almarhum, menjadi salah satu yang menyampaikan kesaksian penuh haru tentang sosok ulama yang telah berpulang tersebut.

Bagi H. Nanang, KH. Sirojul Munir bukan hanya pemimpin organisasi keagamaan. Ia adalah guru kehidupan yang mengajarkan pengabdian tanpa pamrih, dan seorang sahabat perjuangan yang penuh keikhlasan.

“Saya tak hanya kehilangan Ketua MUI, saya kehilangan cahaya umat. Beliau adalah teladan dalam banyak hal, dari cara memimpin hingga cara mencintai umat,” ujar H. Nanang dengan suara bergetar.

Nanang mengenang, dua dekade lalu, ia dan KH. Sirojul Munir bahu membahu merintis pendirian SMA Negeri di Kecamatan Bayongbong, yang kini dikenal sebagai SMAN 19 Garut. Saat itu, pendidikan belum menjadi prioritas utama di banyak tempat, namun almarhum hadir sebagai penggerak, bukan penonton. Ia bahkan memimpin langsung tim pembentukan sekolah tersebut, memperlihatkan keberpihakan luar biasa terhadap masa depan generasi muda.

Baca Juga:   Edy Kuntoro dari Garut, Satu dari 111 ASN Berprestasi di Jabar yang Raih Penghargaan

Tak hanya berhenti di sana, sosok yang dikenal bersahaja ini juga menjadi tokoh penting dalam pendirian SMKN 9 Garut dan sempat memimpin Komite SMPN 2 Garut, salah satu sekolah unggulan di kabupaten tersebut. Bagi Nanang, kepedulian KH. Sirojul Munir terhadap dunia pendidikan adalah warisan berharga yang tak akan pernah padam.

Di mata sahabatnya ini, KH. Sirojul Munir juga dikenal sebagai pemimpin yang demokratis dan rendah hati. Ia tidak pernah memandang sebelah mata pendapat generasi muda.

“Sepanjang usulan itu logis dan diniatkan untuk kemaslahatan, beliau pasti mendengarkan. Bahkan tidak jarang mengangkatnya sebagai keputusan bersama,” kenang Nanang.

Sosok penyejuk namun bisa juga sangat tegas

Di dalam forum MUI, ia selalu menjadi sosok penyejuk namun bisa sangat tegas ketika prinsip keumatan dipertaruhkan. Dan di luar forum, ia dikenal ringan langkah, siap hadir dalam undangan dakwah di desa-desa terpencil maupun wilayah kota, tanpa memandang waktu, jarak, atau cuaca.

Salah satu yang paling berkesan bagi H. Nanang adalah semangat almarhum dalam berdakwah bahkan saat sakit.

Baca Juga:   Kartini Garut Ini Mampu Kuliahkan Anaknya di Belgia dengan "Single Parent"

“Dalam kondisi yang tidak prima pun, beliau tetap datang jika diminta. Bagi beliau, dakwah bukan beban, tapi cinta,” ujarnya.

Nasihat-nasihat KH. Sirojul Munir juga begitu membekas. Salah satunya yang tak pernah dilupakan H. Nanang adalah pesan sederhana namun dalam makna: “Berjuanglah lewat pintu manapun. Jangan pernah menyerah. Bekerjalah dengan hati dan keikhlasan. Gunakan logika dan nurani.”

Punya julukan “Munir Sakti”

Selain kiprahnya sebagai ulama, H. Nanang juga mengungkap sisi kehidupan KH. Sirojul Munir yang tak banyak diketahui publik. Sebelum dikenal sebagai tokoh agama, almarhum pernah menjadi tukang becak, pedagang kue balok, bertani, bahkan menjadi pembina kerohanian bagi anggota Asosiasi Preman Indonesia.

Julukan “Munir Sakti” disematkan padanya — bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena kemampuannya menaklukkan hati-hati yang keras dan menuntunnya menuju kebaikan.

Dalam dunia pemerintahan, KH. Sirojul Munir juga sempat menjabat sebagai Kepala Desa sejak 1994 dan membentuk Paguyuban Kepala Desa Garut (PKDG), yang kemudian berkembang menjadi cikal bakal Apdesi (Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia).

Sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU), KH. Sirojul Munir pernah menjabat bendahara dan wakil ketua di PCNU Garut. Di MUI, beliau meniti karier dari Wakil Rais Syuriyah hingga menjadi Ketua sejak 2015 selama dua periode.

Baca Juga:   Vicky Safra, Janda Terkaya Sejagat Mantan Istri Bankir, Berusia 68 Tahun

H. Nanang menegaskan, Garut kehilangan sosok langka. Seorang pemimpin yang tidak hanya memimpin, tapi juga menghidupkan. Ia membangun dari bawah, dengan tangan dan hatinya.

“KH. Sirojul Munir telah pergi, tapi nilai-nilai yang beliau tanamkan masih akan terus tumbuh dalam diri kami, para sahabat dan murid-muridnya. Beliau bukan hanya dikenang, tapi diteladani,” pungkas Nanang.

Masyarakat Garut pun menggelar doa bersama di berbagai pesantren, masjid, dan majelis taklim sebagai bentuk penghormatan terakhir. Warga menyebutnya bukan sekadar kehilangan sosok ulama, tapi kehilangan ayah spiritual dan sahabat perjuangan.

KH. Sirojul Munir telah tiada, namun cahaya hidupnya akan terus menerangi generasi. Ia telah berpindah ke alam yang lebih mulia, tapi namanya tetap hidup dalam langit kenangan umat. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *