LANGIT Talegong pagi itu cerah, embun masih bertahan di pucuk-pucuk daun, sementara hamparan sawah membentang menghijau di kejauhan. Di tengah suasana alam yang tenang itu, Mohammad Fayyadh Chaidar Mujahid melangkah pasti dengan sepatu lapangannya, menyusuri pematang. Pria berusia 25 tahun itu bukan petani, tapi kehadirannya menjadi kunci penting dalam menjaga hasil panen warga tetap aman dari serangan hama.
Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah mimpi yang telah Fayyadh genggam sejak lulus SMA. Mimpinya kian tajam saat ia menyelesaikan pendidikan tinggi di jurusan Agro Teknologi Universitas Padjadjaran pada 2022. Baginya, mengabdi sebagai aparatur sipil negara bukan sekadar pekerjaan — melainkan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat lewat ilmu yang ia pelajari.
Maka ketika Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), ia tidak ragu untuk mendaftar. Persaingan ketat dengan ribuan pelamar tak menyurutkan langkahnya. Dan usahanya membuahkan hasil: Fayyadh lolos sebagai Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) — bidang yang sangat sesuai dengan latar belakang akademiknya.
“Awal 2025 saya resmi ditugaskan di Kecamatan Talegong, Garut,” tuturnya pada Selasa, 22 Juli 2025.
Tugasnya sebagai POPT bukan sekadar administratif. Ia menjadi garda terdepan dalam memantau, mengidentifikasi, dan mengendalikan berbagai jenis hama dan penyakit tanaman yang mengancam sektor pertanian di wilayah tersebut. Di ladang, sawah, dan kebun, Fayyadh hadir mendampingi petani untuk menjaga produksi tetap stabil, dan hasil panen tidak merugi.
Menariknya, Talegong bukan daerah yang asing baginya. Sebelum resmi ditempatkan di wilayah yang berada di ujung barat Kabupaten Garut itu, Fayyadh sudah sering melewati atau mampir ke daerah tersebut saat bepergian ke arah pantai selatan Jawa Barat. “Makanya, ketika akhirnya saya ditempatkan di Talegong, rasanya seperti pulang ke tempat yang sudah akrab,” ujarnya sambil tersenyum.
Kedekatannya dengan masyarakat setempat pun cepat terbangun. Ia mengaku diterima dengan baik oleh warga yang menurutnya sangat terbuka dalam menerima kehadiran orang baru, bahkan aparat pemerintah sekalipun. “Saya bersyukur karena masyarakat Talegong cukup open minded. Mereka mau mendengar, berdiskusi, bahkan memberikan masukan,” katanya.
Namun, menjadi POPT bukan pekerjaan ringan. Ancaman organisme pengganggu tanaman selalu berubah, seiring cuaca dan pola tanam. Tikus sawah, misalnya, menjadi momok tersendiri di musim tanam tertentu. Meski saat ini tingkat serangannya tergolong ringan, pengendalian tetap dilakukan secara rutin melalui metode pengemposan dan gropyokan.
Sementara itu, ancaman hama seperti wereng, blas, dan penggerek batang meningkat ketika musim kemarau basah tiba. “Untuk jenis ini, pendekatan pengendalian dilakukan secara terpadu, termasuk pengamatan berkala dan penggunaan pestisida alami,” jelas Fayyadh.
Ancaman lainnya adalah ulat jenis graya yang kerap menyerang secara mendadak dan bisa menyebabkan gagal panen. Sedangkan di musim hujan, jamur dan busuk batang menjadi tantangan tersendiri. Untuk itu, sanitasi lahan dan pemeliharaan irigasi menjadi strategi utama dalam pencegahannya.
Dalam usia yang masih muda, Fayyadh telah membuktikan bahwa semangat, keahlian, dan kemauan mengabdi bisa membawa perubahan. Dari Ujungberung ke Talegong, dari bangku kuliah ke pematang sawah, ia hadir bukan sekadar sebagai ASN, tapi sebagai mitra petani dan penjaga ketahanan pangan di tingkat akar rumput. ***



.png)
























