GOSIPGARUT.ID — Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Garut menyatakan terdapat sekitar 57 hektare lahan di daerah berjuluk Swiss van Java ini dalam kondisi kritis. Lahan kritis tersebut disebut sebagai salah satu faktor penyebab bencana alam di Kabupaten Garut.
“Seperti diketahui bahwa hampir 57 ribu hektare lahan kritis di Kabupaten Garut,” kata Kepala Dinas LH Kabupaten Garut, Junjun Juansyah, melalui siaran pernya.
Menurut dia, salah satu langkah untuk mengatasi lahan kritis itu adalah melakukan penanaman pohon atau reboisasi. Jujun mengungkapkan, pihaknya akan melakukan upaya penanaman sekitar 400 ribu pohon di Kabupaten Garut. Langkah itu akan dilakukan secara kolaborasi dengan berbagai pihak, baik itu Cabang Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, kelompok usaha tani, serta seluruh stakeholder di bidang pertanian dan pariwisata.
Ia menilai, upaya reboisasi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan masyarakat. Karena itu, Jujun mengajak masyarakat untuk melakukan upaya penanaman di pekarangan maupun di lingkungan sekitarnya.
“Saya kira dengan adanya beberapa bencana (seperti) di tanggal 15 Juli 2022 dan tahun 2016, ini (salah satu) upaya mitigasi bencana yang harus kita lakukan,” ujar dia.
Junjun juga mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Sekolah Sungai Cimanuk yang menggelar penanaman pohon di Kampung Neglasari, Dusun 03, Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. Menurut dia, langkah itu sangat membantu dalam hal konservasi alam.
“Saya kira apa yang dilakukan oleh teman-teman Sekolah Sungai Cimanuk ini adalah, mungkin tidak sebanyak apa yang seharusnya, upaya yang harus dilakukan oleh semua pegiat lingkungan, termasuk kita semua,” kata dia.
Ketua Sekolah Sungai Cimanuk, Mulyono Khadafi, mengatakan, kegiatan penanaman pohon merupakan agenda rutin Sekolah Sungai Cimanuk yang dilakukan setiap tahun. Dalam penanaman pohon kali ini, pihaknya menyediakan beberapa jenis pohon. Di antaranya pohon durian, tanaman rasamala, tanaman afrika, dan jenis tanaman lainnya.
Ia mengungkapkan, adanya penanaman pohon ini bertujuan untuk meminimalisir dampak bencana alam, sehingga pada musim hujan pohon dapat menyimpan air agar tidak banjir. Sementara pada musim kemarau pohon dapat menyimpan cadangan air agar tidak kekeringan.
“Saya berharap, adanya penanaman pohon ini dapat menjaga ketersediaan oksigen dan melestarikan alam. Diharapkan juga, pohon-pohon yang ditanam itu dapat melindungi makhluk hidup dari perubahan iklim. Dan ujung-ujungnya untuk bisa meminimalisir terjadinya bencana,” kata Mulyono. (ROL)



.png)






