Berita

Menambang Rupiah dari Mengurai Jelimetnya Ijuk, Sehari Dapat 300 Ribu

×

Menambang Rupiah dari Mengurai Jelimetnya Ijuk, Sehari Dapat 300 Ribu

Sebarkan artikel ini
Seorang pekerja di Kampung Cikangkung, Desa/Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, sedang menyisir dan memilah ijuk pohon nira. (Foto: Galih Pawarti)

GOSIPGARUT.ID — Menyisir atau mengurai jelimetnya ijuk pohon nira (enau), merupakan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang lumayan besar saat ini. Pasalnya, seorang penyisir mampu menghasilkan ijuk bersih sekitar 30 klogram yang jika dikonversikan ke uang rupiah setara dengan Rp300.000

Di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, ratusan orang saat ini terjun menggeluti usaha penyisiran ijuk. Di Kampung Cikangkung, Desa Cisewu, misalnya hampir setiap kepala keluarga membuka tempat penyisiran ijuk di rumahnya masing-masing. Tempat penyisiran itu bisa beroperasi dalam waktu 24 jam jika orderan lagi ramai.

“Lumayan bisa merekrut tenaga kerja. Anak muda yang masih nganggur jadi punya pekerjaan,” kata salah seorang penyisir ijuk bernama Abay, Selasa (1/2/2022).

Baca Juga:   Jelang HUT ke-79 Kemerdekaan RI, Kantor UPT Pertanian Cisewu dan Talegong Sudah Bersolek

Ia menjelaskan, pihaknya mendapatkan ijuk yang belum disisir (kotor) dengan cara membeli dari petani. Harganya relatif murah, yakni Rp4.500 per kilogram. Namun setelah disisir, ia menjualnya ke bandar dengan harga enam kali lipatnya yaitu Rp29.000 per kilogram.

“Setiap satu kilogram ijuk kotor yang sudah disisir mengalami penyusutan hampir setengahnya. Jadi kami hanya memiliki keuntungan sekitar Rp10.000 per kilogram setelah dikurangi biaya modal pembelian,” kata Abay.

Baca Juga:   Irigasi Rusak, 400 Hektare Sawah di Talegong dan Cisewu Terancam Kekeringan

Ia menjelaskan, dalam pemasaran ijuk yang sudah disisir tidak begitu susah karena mereka tidak perlu menawarkan kepada bandar melainkan bandar sendiri yang datang ke tempat penyisiran. “Bahkan tidak sedikit bandar yang lebih dahulu menyimpan uang pada para penyisir agar tidak menjual ijuk bersih kepada siapa-siapa,” terangnya.

Abay mengakui sampai saat ini pihaknya tidak mengetahui ijuk yang sudah disisir dan dipilah itu sebagai bahan baku apa. Ketika ditanyakan kepada bandar pun, selalu dijawab dengan gelengan kepala. Para bandar hanya mengatakan bahwa ijuk bersih hasil uraian para penyisir yang dibelinya tersebut untuk diekspor ke luar negeri.

Baca Juga:   Floating Breakfast ala Grazie Bali: Sensasi Sarapan Terapung yang Instagramable dan Tak Terlupakan

“Sampai saat ini pun saya tidak tahu untuk dibuatkan apa ijuk-ijuk yang sudah disisir ini. Kalau sebagai bahan baku untuk pembuatan kursi jok (sofa) atau untuk atap rumah, ijuknya tidak usah disisir dulu. Dalam kondisi yang belum terurai pun sudah bisa digunakan,” kata dia. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *