Berita

Di Masa Pandemi, Petani di Cibatu Lebih Untung Tanam Cabe Kriting dan Terong Ungu

×

Di Masa Pandemi, Petani di Cibatu Lebih Untung Tanam Cabe Kriting dan Terong Ungu

Sebarkan artikel ini
Petani Cibatu sedang memanen terong ungu. (Foto: Ai Respati)

GOSIPGARUT.ID — Meski dilanda pandemi dan pemberlakuan PPKM Darurat, Cecep Rohendi, seorang petani asal Garut tetap bertahan dan tetap bisa memperkerjakan 10 orang pegawai yang menggarap lahannya di Blok Kampung Cileles, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.

Meski diakuinya, pemberlakuan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) darurat berpengaruh terhadap harga komoditas sayuran seperti cabe merah kriting, mentimun, dan terong ungu.

Sebelum PPKM darurat, harga cabe merah keriting biasa dijual Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram. Kini hanya dijual Rp8 ribu per kilogramnya. Sementara terong ungu yang biasanya dijual Rp5 ribu per kilogram, dijual seharga Rp2.500 per kilogram.

Baca Juga:   PT Changsin Akui Belum Bisa Beri CSR kepada Warga Karena Masih Punya Utang

“Harga jual sekarang memang lebih rendah dari harga normal karena dipengaruhi ongkos transportasi yang cukup mahal di tengah pemberlakuan PPKM. Tetapi bertani sayuran lebih menguntungkan dibanding dengan menanam padi atau palawija,” jelas Cecep, Jum’at (16/7/2021)

Petani muda yang bercita -cita membuka pondok pesantren itu menambahkan, lahan 1400 meter persegi jika ditanami padi bisa menghasilkan 8 kwintal gabah dan sekali panen. Namun jika ditanami cabe merah keriting bisa menghasilkan 2 ton selama 10 kali panen.

Baca Juga:   Longsor Cilawu, Pasokan Listrik di Priangan Timur Terancam Terganggu

“Kalau menanam cabe per seratus hari sudah bisa panen terus selama 50 hari ke depan. Begitu juga dengan mentimun dan terong ungu, rata-rata bisa 10 kali panen selama satu kali tanam. Artinya tetap lebih menguntungkan bila dibandingkan menanam padi atau palawija,” ujar Cecep.

Ia menjelaskan, cara merawat tanaman pun tidak terlalu rumit hanya dibutuhkan air yang cukup setiap 4 hari sekali. Guna memenuhi kebutuhan air, Cecep membuat sumur bor sehingga bisa mengairi lahan pertaniannya meski cuaca sedang musim kemarau.

Baca Juga:   Petani Cibatu Keluhkan Proses Pembelian Pupuk Subsidi yang Ribet

“Alhamdulillah di tengah hantaman pandemi, meskipun tidak untung banyak, tetapi bisa menutupi biaya garap dan tetap bisa memberdayakan para petani lokal yang bekerja mencari nafkah. Sayangnya banyak generasi muda yang enggan turun menjadi petani mengolah lahannya, padahal prosfeknya bagus,” pungkas Cecep. (Respati)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *