oleh

Mengenal Sosok Penusuk Syekh Ali Jaber, Diduga Stres Sejak Ditinggal Ibu ke Hongkong

GOSIPGARUT.ID — Rumah tersangka Alfin Andrian (24) di Kelurahan Sukajawa, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, terpantau sepi, Senin (14/9/2020). Tak terlihat ada aktivitas di rumah bercat kuning yang berada di gang sempit ini.

Keluarga tersangka Alfin Andrian diduga sudah pergi meninggalkan rumah pasca insiden penusukan Syekh Ali Jaber. Jumawan selaku ketua RT setempat mengatakan, rumah yang ditempati Alfin dan keluarganya itu merupakan milik kakeknya.

Di rumah tersebut, Alfin tinggal bersama ayah, adik, dan neneknya. Ketika disambangi, di rumah tersangka itu idak ada satu pun kerabat tersangka yang menampakkan diri. Menurut Jumawan, ibu kandung Alfin sudah menikah lagi.

“Alfin bersama adik nomor dua ditinggal di rumah ini. Adiknya yang kecil ikut ibunya,” kata Jumawan, Senin (14/9/2020).

Terkait kondisi kejiwaan Alfin, Jumawan mengaku tak mengetahui pasti. Pasalnya, pria lajang tersebut jarang terlihat oleh warga sekitar.

Sedangkan keluarga tersangka merupakan orang baik dan sering berbaur dengan tetangga. Namun M Rudi (46) yang merupakan ayah kandung Alfin tidak pernah menceritakan kondisi kejiwaan sang anak.

“Gak pernah ngeluh tentang kondisi anaknya. Ya mungkin itu urusan pribadi mereka,” kata Jumawan.

Secara pribadi, Jumawan menyebut tidak begitu mengenal Alfin. “Kalau kesehariannya (Alfin), saya kurang tahu. Yang bersangkutan juga sepertinya jarang pulang,” kata dia.

Jumawan menambahkan, tiga tahun terakhir Alfin tinggal bersama kerabatnya di Mesuji. Dia berada di Bandar Lampung baru satu minggu terakhir. “Kerja apa, saya gak tahu. Setahu saya masih bujang, belum beristri,” terangnya.

Baca Juga:   UKM di Garut Diminta Siapkan Pengganti Barang Impor

Ditinggal ibu ke Hongkong

Alfin Andrian (24), pemuda yang menjadi tersangka kasus penusukan Syekh Ali Jaber, disebut mengalami gangguan jiwa sejak ditinggal ibu kandungnya bekerja sebagai TKW di Hongkong.

Warga Kelurahan Sukajawa, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, itu ditetapkan sebagai tersangka oleh Polresta Bandar Lampung, Senin (14/9/2020).

Saat ini aparat kepolisian sedang menyelidiki mengenai kejiwaan tersangka. Kapolresta Bandar Lampung Kombes Pol Yan Budi Jaya mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Biddokes Polda Lampung.

“Kami akan panggil dokter dan psikiater dari Jakarta untuk memeriksa kejiwaan tersangka,” ujar Yan Budi Jaya, Senin (14/9/2020). Ia menambahkan, berdasarkan keterangan orangtuanya, tersangka mengalami gangguan jiwa sejak tahun 2016.

Masalah kejiwaan ini muncul karena stres semenjak ditinggal pergi ibu kandungnya ke Hongkong. Namun, kata Yan Budi, polisi tidak begitu saja percaya dengan pernyataan tersebut.

“Kami sebagai penyidik tidak memercayai sepenuhnya keterangan dari orangtua tersangka,” kata Yan Budi.

Kendati demikian, lanjut dia, dari keterangan dokter RSJ Provinsi Lampung, ada indikasi yang mengarah gangguan kejiwaan yang dialami tersangka.

“Namun, hal itu belum bisa menjadi kesimpulan akhir karena masih banyak proses pemeriksaan lain yang harus dijalani tersangka. Tapi yang pasti kami akan memproses sesuai prosedur,” jelas Yan Budi.

Polresta Bandar Lampung telah menetapkan pelaku penusukan Syekh Ali Jaber sebagai tersangka.

Syekh Ali Jaber mengalami insiden penusukan saat memberikan ceramah di Masjid Falahudin, Kelurahan Sukajawa, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, Minggu (13/9/2020).

Baca Juga:   BMKG Minta Warga Waspadai Peredaran Hoax Terkait Tsunami Banten

Selain menjadi tersangka, Alfin juga diperiksa kondisi kejiwaannya.

Kaporesta Bandar Lampung Kombes Pol Yan Budi Jaya mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pembuktian atas pernyataan keluarga jika Alfin mengalami gangguan jiwa.

“Itu masih mau kami buktikan dulu, makanya hari ini kami koordinasi dengan dokkes untuk manggil psikiater dan dokter jiwa,” terangnya Senin (14/9/2020).

Yan Budi menuturkan, hingga saat ini pihak keluarga juga belum bisa menunjukkan surat yang menyatakan Alfin pernah dirawat di RSJ. “Kalau tidak ada, yang menentukan dia dirawat di RSJ atau tidak ada itu putusan pengadilan,” ucapnya.

Disinggung motif tersangka, Yan Budi mengaku masih mendalami. Begitupun ketika disinggung apakah ada orang yang menyuruh Alfin melakukan penusukan, ia belum bisa berasumsi. “Sementara belum ada,” jawabnya.

Pasien RSJ Lampung

Sebelumnya, Ayah pelaku, M Rudi (46), saat mendampingi putranya menjalani pemeriksaan oleh penyidik di Mapolresta Bandar Lampung, Senin (14/9/2020), mengungkapkan, jika anaknya memang memiliki gangguan kejiwaan. Bahkan Rudi menyebut, anaknya pernah menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa.

“Iya mentalnya, karena gangguan saja,”kata Rudi, di Mapolres Bandar Lampung, Senin (14/9/2020) seraya mengungkapkan, setelah dilakukan observasi selama tujuh hari di RSJ Lampung, Alfin dilakukan rawat jalan.

Sempat diyakini sudah sembuh dari penyakitnya, Rudi mengaku, peristiwa penusukan yang dilakukan anaknya karena penyakitnya kumat. “Iya mungkin (penyakit kumat),” katanya.

Rudi mengatakan, pada saat kejadian, Minggu (13/9/2020), Alfin pergi ke lokasi Syekh Ali Jaber sedang mengisi acara, seorang diri. Awalnya, ia tak mengetahui ke mana anaknya pergi pada sore hari itu. “Dia pergi sendiri, saya ada di rumah,” kata dia.

Baca Juga:   Presiden Bagikan Sertifikat Wakaf di Garut Hindari Sengketa Lahan Rumah Ibadah

Sementara itu, paman tersangka Rangga (28) menuturkan, jika Alfin memang memiliki gangguan kejiwaan. Namun penyakit tersebut sudah diobati oleh keluarganya.

Menurut Rangga, Alfin sehari-hari menjadi penjaga kios isi ulang air minum di Rawajitu, Tulangbawang. Tak ada gelagat mencurigakan saat Alfin bekerja di tempat isi ulang air tersebut.

Hanya saja, Alfin diketahui lebih banyak melamun. “Kadang kalau ada yang mau isi ulang dia (Alfin) bengong saja, diam gak mau melayani,” ujarnya.

Setelah hari raya Idul Adha 2020, Alfin tak lagi kerja di Rawajitu dan pulang ke rumah kakeknya di Kelurahan Sukajawa, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung. Rangga yang tinggal tak jauh dari rumah tersangka mengetahui betul bagaimana keseharian keponakannya tersebut.

Ia mengatakan, Alfin hanya lulusan SD dan sempat mengenyam pendidikan sampai jenjang SMP, namun tidak selesai. Kemungkinan, kata Rangga, penyakit gangguan jiwanya kembali kambuh pascapulang dari Rawajitu.

Menurut Rangga, keanehannya muncul ketika mendengar pengajian dari pengeras suara masjid. “Terakhir itu dia kalau dengar suara pengajian langsung tutup kuping, katanya pusing dengar itu (suara pengajian),” jelas Rangga.

Namun, ia mengaku tak mengetahui apa pembicaraan terakhir antara tersangka dan orangtuanya, sebelum melakukan penusukan. “Kalau itu (pembicaraan dengan orangtua) saya enggak tahu, karena kata keluarganya waktu itu (kejadian) ga ada orang di rumah,” tandas Rangga. (dari berbagai sumber)

Komentar