oleh

Arsitektur Garut: Rumah Minim Sinar Matahari Jadi Sarang Penyakit TBC

GOSIPGARUT.ID — Tinggal di rumah sehat jelas impian semua orang. Hanya saja untuk mewujudkannya jelas bukan perkara gampang. Apalagi mereka yang tinggal di permukiman padat, atau mereka yang tinggal di kampung-kampung dengan tata letak rumah yang tak teratur.

Kondisi seperti itu kemudian coba disiasati Rully Oktavian (47) bersama rekan-rekannya yang merupakan pelaku profesi arsitektur, seni, dan budaya. Pengalaman selama masa mahasiswa yang kerap melakukan kunjungan lapangan turut mendorong untuk berbuat, dengan cara mengampanyekan rumah sehat yang disebutnya relatif murah. 

Rully sendiri merupakan arsitek. Dengan latar belakang seperti itu, dia ingin masyarakat bisa menghadirkan rumah yang setidaknya bisa memberikan aura positif bagi penghuninya. Untuk menampung kesamaan ide itu, mereka membentuk Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara (Yahintara) pada 2012. Mereka lebih banyak bergerak di Garut.

“Masyarakat cenderung tak teredukasi. Masalah yang kerap terlupakan adalah sanitasi yang kurang, di masyarakat terkadang terlupakan. Kemudian pembuangan limbah, di rumah tangga itu bisa jadi sumber penyakit,” tandasnya di Bandung, akhir pekan lalu.

Baca Juga:   Cara Mudah Mengembalikan Pesan WhatsApp yang Terhapus, Ikuti Langkah Ini!

Perhatian lainnya adalah kecenderungan masyarakat yang sebatas menghadirkan rumah dengan mengedepankan tampilan bagus. Hal ini, jelasnya, tentu saja tak dilarang. Hanya saja, ada hal lain yang perlu mendapat prioritas. 

“Kadang rumah di-make up mewah, tapi tak pernah sadar, rumahnya terjepit dari sinar matahari, pengap sehingga rumahnya jadi sumber penyakit, TBC misalnya. Jangan sampai kemudian kita tetap tak peduli, rumah tanpa ventilasi, tanpa sinar matahari sehingga berdampak negatif bagi penghuninya,” katanya.

Untuk itu, pihaknya melakukan edukasi dengan memilih waktu di akhir pekan. Di antaranya mengajak anak-anak kampung setempat menggambar rumah sehat. Kemudian, mereka pun membuatkan desain rumah sehat secara cuma-cuma untuk diimplementasikan. Hanya saja, mereka tak sekadar diberikan desain.

Baca Juga:   Di Mata Pria, Mengapa Janda Lebih Menggoda? Inilah Tujuh Alasannya

“Dalam membangunnya harus ada keterlibatan masyarakat setempat. Karena itu, kita memberikan ilmu lintasan matahari secara sederhana, warga setempat ikut memantau, kita diajari mengukur, membeli bahan material, teknis membangun. Dengan demikian, ilmu rumah sehatnya bisa ditularkan,” jelasnya.

Tak hanya itu, mereka pun membuat rumah singgah di permukiman padat dan kampung-kampung. Bahkan desainnya disayembarakan. Tujuannya di antaranya untuk melakukan penanganan terhadap warga yang menderita penyakit terutama TBC supaya tak menular.

“Jadi penderitanya ditempatkan dulu di situ. Minimal 2 pekan, langkah ini supaya kumannya tak menyebar. Semuanya dipantau selama mendapat penanganan di rumah singgah tersebut,” jelasnya.

Langkah lain pembelajaran lainnya adalah mereka tengah merancang wisata edukasi arsitektur di antaranya dengan menjadikan kampung-kampung adat sebagai tujuan. Diharapkan, nilai-nilai luhur dari kampung-kampung adat dalam membangun tempat tinggalnya bisa menjadi inspirasi terutama dalam mewujudkan rumah yang sehat.

Baca Juga:   Helikopter Laris Manis Diburu Pemudik, Tarif Sewanya Capai Segini

Untuk pendanaannya terutama dalam mewujudkan rumah yang sehat itu, mereka memilihnya dengan mengetuk pihak-pihak yang mempunyai kepedulian. Bahkan, tak jarang, mereka melakukannya secara unik.

Salah satunya, menggandeng komunitas guna ikut menyumbang pembangunan rumah singgah TBC yang sedang disayembarakan. Caranya, setiap orang yang berlari sejauh 1 Km akan menyumbang Rp10 ribu. Targetnya, lari sejauh  50.000 Km. Hingga akhir pekan lalu, dana yang sudah terkumpul adalah 1.400 Km, senilai Rp14 juta.

Kenapa tak menggandeng pemerintah? “Bukan tak mau, tapi pertanggungjawabannya yang berat. Kalau dana dari mereka yang peduli kan, kami kan leluasa dalam memanfaatkannya tanpa perlu takut terjerat persoalan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya,” jelasnya. ***

Komentar