GOSIPGARUT.ID — Langkah kecil penuh kepedulian tampak di Kampung Tabrik, Desa Linggamukti, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut. Dinas Sosial Kabupaten Garut bersama Kasi Kesejahteraan Sosial (Kesra) Kecamatan Sucinaraja, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), dan pendamping sosial turun langsung menemui Pak Unang untuk melakukan asesmen kebutuhan alat bantu berjalan yang dibutuhkannya.
Kunjungan itu dilakukan sebagai upaya memastikan kondisi Pak Unang sekaligus menindaklanjuti kebutuhan bantuan sosial dan alat bantu fisik agar ia dapat kembali beraktivitas dengan lebih baik.
Dalam proses asesmen tersebut, petugas mendapati Pak Unang membutuhkan kaki palsu serta penyangga tangan untuk menunjang mobilitas sehari-hari.
“Alhamdulillah sudah diasesmen. Ternyata yang dibutuhkan itu kaki palsu dan juga penyangga tangannya,” ujar TKSK Kecamatan Sucinaraja di sela kegiatan pendampingan.
Tidak hanya melakukan pendataan, petugas sosial juga langsung mengupayakan bantuan lanjutan bagi Pak Unang. Program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) disebut telah kembali diajukan agar dapat membantu kebutuhan hidup sehari-hari.
“Nih, tos diusulkan sembako sareng PKH-na mah. Langsung diajengkeun,” kata petugas kepada Pak Unang dengan nada menenangkan.
Sebagai bentuk perhatian awal, tim turut menyerahkan bantuan sembako berisi beras, minyak goreng, mi instan, susu, dan makanan kaleng. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Pak Unang dengan penuh rasa haru.
“Nganuhunkeun pisan anu dipasihan ka Bapak ieu. Sing anu masihanna sing lalancar padamelanana, sing panjang umur sadayana,” ucap Pak Unang lirih.
Suasana hangat dan penuh empati terasa selama proses pendampingan berlangsung. Petugas tampak berbincang santai dengan Pak Unang sambil memastikan kebutuhan yang paling mendesak dapat segera ditangani.
Pendamping sosial Kecamatan Sucinaraja mengatakan, kehadiran langsung di tengah masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan pelayanan sosial benar-benar dirasakan warga yang membutuhkan. Menurutnya, proses asesmen lapangan membantu pemerintah menentukan bentuk bantuan yang paling sesuai dan tepat sasaran.
Kolaborasi antara Dinas Sosial, TKSK, pendamping PKH, serta unsur kecamatan dan desa diharapkan dapat mempercepat penanganan masyarakat rentan, khususnya warga dengan keterbatasan fisik dan kondisi ekonomi yang membutuhkan perhatian khusus.
“Alhamdulillah, Kemensos selalu ada,” ujar salah seorang petugas sosial.
Upaya jemput bola seperti ini menjadi gambaran bahwa pelayanan sosial tidak hanya berhenti pada administrasi, tetapi juga hadir langsung menyapa warga, mendengar kebutuhan mereka, dan memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan. ***



.png)























