GOSIPGARUT.ID — Bupati Rudy Gunawan, mengatakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bertahun-tahun telah terbukti meningkatkan kesejahteraan masyarakat Garut. Kemiskinan di kabupaten ini, ujar dia, sejak tahun 2017 menurun tajam.
”Kami sekarang tidak lagi dua digit kemiskinannya, tetapi sudah sampai di 9,27% turun 2% dari sebelumnya. Tentu hal ini berkat program-program pemerintah yang dipimpin oleh Joko Widodo dan Yusuf Kalla dengan programnya yang sangat merakyat, diantar adalah kredit usaha rakyat,” kata Rudy, saat acara penyaluran KUR peternakan di Kabupaten Garut, belum lama ini, dilansir dari laman garutkab.go.id.
Dalam video confrence dengan Menteri Peronomian Darmin Nasution bersama lima daerah lain penerima program KUR peternakan, saat itu, Bupati pun mengatakan banyak program yang telah dibuat secara sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten bahkan dari dana desa.
”Sinergitas ini tentu semuanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, KUR memang sangat membantu dengan persyaratan yang tidak begitu ketat, pemerintah memberikan ini kemudahan kemudahan bagi kita untuk melanjutkan usaha dalam rangka meningkatkan kesejahteraan,” ujar dia.
Untuk itu, Rudy Gunawan mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Pemerintah pusat atas terselenggaranya Program KUR peternakan.
Asisten Deputi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Joko Waluyo, mengatakan, program KUR peternakan terbukti membantu peternak dalam mengakses pembiayaan. Tahun 2018 lalu pemerintah menyiapkan plafon KUR sebesar Rp 14,4 Triliun dengan jumlah debitur 687 ribu orang.
“Secara nasional khusus KUR peternakan mencapai Rp 14,4 Triliun dengan jumlah debitur 687 ribu,” kata dia.
Joko menerangkan, khusus untuk Jabar KUR umum yang sudah tersalurkan sebesar Rp 42,2 Triliun dengan debitur 1.9 juta orang. Sedangkan KUR khusus peternakan mencapai Rp 437 Milyar dari jumlah debitur 17.525 orang.
“Potensi peternakan di Jabar itu besar jadi peternak maupun UKM harus bisa lebih mengakses KUR ini,” ujarnya.
Dalam perkembangannya, program KUR telah mengalami beberapa perubahan baik regulasi maupun skema yang salah satunya adalah penurunan tingkat suku bunga. Joko mengungkapkan, awalnya tahun 2015 suku bunga KUR diangka 12 persen. Kemudian 2017 bunga yang dikenakan 9 persen dan tahun 2018 sampai saat ini turun lagi menjadi 7 persen.
“Pemerintah juga menetapkan perubahan skema yang lebih memprioritaskan pada sektor produksi salah satunya peternakan,” katanya.
Tercatat dari tahun 2015 sampai 2018 plafon KUR yang sudah tersalurkan kepada 13,8 juta debitur sebesar Rp 333 triliun. Penurunan suku bunga menjadi 7 persen menjadi faktor bertambahnya angka tersebut.
“Penurunan suku bunga merupakan komitmen pemerintah dalam membayar subsidi bunga. Subsidi bunga yang dibayarkan pemerintah pada tahun 2015 baru Rp 39 miliar, tahun 2016 Rp 3,7 triliun dan tahun 2018 sudah mencapai Rp 11,6 triliun,” kata Joko. (Gun/Yus)



.png)















