oleh

Tahun 2018, Kominfo Blokir Sebanyak 106.466 Situs Porno

GOSIPGARUT.ID — Situs konten bermuatan pornografi masih menempati urutan teratas yang paling banyak diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Pada tahun ini saja, sampai November, pemerintah telah memblokir 106.466 situs.

Sementara bila dilihat secara keseluruhan yang diambil sejak tahun 2010, maka 883.348 website yang mengandung konten esek-esek tersebut ditutup aksesnya oleh Kominfo. Pemblokiran situs tersebut karena adanya aduan dari masyarakat maupun permintaan lembaga.

Sedangkan, peringkat kedua dan ketiga situs yang terbanyak diblokir di tahun 2018 adalah situs perjudian dan penipuan. Masing-masing sebanyak 63.220 situs dan 2.639 situs.

Disampaikan oleh Kominfo melalui keterangan tertulisnya, Jum’at (21/12/2018) total keseluruhan situs perjudian yang telah diblokir sejak tahun 2010 sebanyak 70.663 website. Adapun website penipuan mencapai 2.639 website.

Baca Juga:   Di Salah Satu Akun Twitter, Adegan Ranjang "Vina Garut" Diperjualbelikan

Media sosial

Selain soal situs, Kominfo juga memaparkan akun platform media sosial yang paling banyak diblokir selama sepanjang 2018. Adalah Facebook dan Instragram juaranya. Berdasarkan database Penanganan Konten sebanyak 8.903 akun Facebook dan Instagram yang masih satu perusahaan ini telah diblokir karena memuat konten negatif.
Kemudian, Twitter yang telah diblokir sebanyak 4.985 akun dan YouTube sebanyak 1.689 akun.

Baca Juga:   Nasib Jalan Karangsewu yang Terabaikan, Warga: Kami Butuh Bukti...!

Sampai bulan November 2018, akun file sharing yang telah diblokir sebanyak 517, Telegram sebanyak 502 akun. Lalu, akun Line dan BBM masing-masing 18 akun dan 5 akun.

Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu menjelaskan, sesuai dengan Undang-Undang No 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, terdapat 12 kelompok konten yang dikategorikan sebagai konten negatif.

Baca Juga:   Kontroversi Aceng Fikri yang Menikah Ketiga Kalinya dengan Wanita Jelita

Kategori konten negatif itu antara lain: pornografi/pornografi anak; perjudian; pemerasan; penipuan; kekerasan/kekerasan anak; fitnah/pencemaran nama baik; pelanggaran kekayaan intelektual; produk dengan aturan khusus; provokasi sara; berita bohong; terorisme/radikalisme; serta informasi/dokumen elektronik melanggar undang-udangan lainnya. (dtc/FJ)

Komentar

Berita Terkait