Berita

Klaster Covid-19 Banyak Ditemukan di Perkampungan Garut Selatan, Ini Pemicunya

×

Klaster Covid-19 Banyak Ditemukan di Perkampungan Garut Selatan, Ini Pemicunya

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI -- Pandemi Covid-19.

GOSIPGARUT.ID — Belakangan kasus penularan virus Covid-19 sudah banyak ditemukan di daerah perkampungan, wilayah selatan Kabupaten Garut.

Atas hal itu Bupati Rudy Gunawan turut meminta kepada seluruh masyarakatnya agar lebih meningkatkan kewaspadaan. Terutamanya melalui disiplin protokol kesehatan 5 M.

“Sekarang itu justru terjadi di kampung-kampung, di Garut Selatan saja sekarang ini diperkirakan ada 400 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 sejak beberapa hari lalu,” ucap Rudy.

Dalam kesempatan itu Rudy turut mengungkapkan sejumlah pemicu hingga mengakibatkan terjadi penambahan kasus Covid-19 yang signifikan dalam hitungan hari.

Baca Juga:   Dilapori Kondisi Pasien Positif Covid-19 Semakin Membaik, Bupati Garut Gembira

Menurut dia, ada sejumlah faktor yang disebut turut menunjang peningkatan kasus Covid-19 di wilayah perkampungan Garut, yakni maraknya penyelenggaraan hajatan yang sulit dikendalikan tanpa penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Atas maraknya kejadian itu, wilayah Garut mendapat hasil penilaian dari pemerintah provinsi sebagai tiga besar daerah dengan kasus aktif paling tinggi di Jawa Barat.

Menurut Rudy, salah satu acuannya adalah temuan terkonfirmasi baru sebanyak 400-an orang di klaster perkampungan.

“Kasus aktif terbesar ada di daerah selatan, masuk klaster kampung karena semenjak ada hajatan,” katanya.

Baca Juga:   Saat Kades Cisewu Didatangi Warga, Sejumlah Perangkat Desa Tidak Masuk Kantor

Selanjutnya, Rudy mengatakan jika faktor penentu lain atas tingginya sebaran Covid-19 di daerah yang jauh dari perkotaan itu adalah banyaknya warga yang merasakan gejala (Covid-19), namun tidak memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Dari situ, lanjutnya, warga yang sebenarnya masuk dalam kategori terjangkit karena gejala tidak mendapatkan pertolongan yang semestinya hingga kondisinya terus menurun dan akhirnya meninggal dunia.

“Masyarakat yang mengalami gangguan penciuman itu tidak melapor, jika sudah keadaan panas dingin baru ke Puskesmas. Itu sudah dalam kondisi fase 2, jadi banyak yang meninggal di Garut karena mereka itu tidak pernah melapor,” ujar Rudy.

Baca Juga:   APM/APS Menurun, Bupati Garut Instruksikan Kades Cari Anak Usia SMP untuk Bersekolah

Adapun untuk kasus pasien positif yang meninggal dunia sampai dengan tanggal yang sama, telah ditemukan sebanyak 585 kasus.

“Yang membawa dampak (besar) Garut itu ya 400 itu, sehingga Garut masuk 3 besar sebagai daerah yang kasus aktifnya paling tinggi,” katanya. (Mrdk)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *