GOSIPGARUT.ID — Peletakan batu pertama dalam rangka pembangunan kantor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Garut yang diselenggarakan pada Senin (20/1/2020) sore oleh Bupati dan Ketua Kadin Garut, serta dihadiri oleh Forkopimda, merupakan langkah posistif dan gebragan yang ditunggu tunggu di era kepemimpinan dua periode Deden Sofyan (2010-2015 dan 2015-2020).
Sejumlah organisasi perusahaan dan pengusaha memang telah lama menunggu adanya kantor Kadin yang refresentatif, yang diharapkan bisa menunjang sepak terjang Kadin sekaligus menjadi wadah yang strategis dalam mengelaborasi gagasan guna membangun perokonomian Garut khususnya di sektor perdagangan dan perindustrian.
Namun demikian, menurut Direktur Eksekutif Pusat Analisa Kebijakan dan Informasi Strategis (PAKIS) Galih F. Qurbany, langkah itu terkesan sangat politis di tengah memanasnya kompetisi perebutan ketua Kadin. “Ya, ini baik dan tidak ada masalah. Hanya terkesan sangat politis, karena peletekan batu pertama atas rencana pembanguan kantor Kadin ini dilakukan di injuri time, satu hari sebelum pelaksanaan Mukab Kadin VII yang akan diselenggarakan besok,” ujarnya.
“Meskipun ketua Kadin juga menerangkan bahwa rencana ini sudah muncul sejak tahun 2018,” tambah Galih.
Mengapa dikatakan politis?
Galih menegaskan, karena seharusnya ketua Kadin yang sebentar lagi akan demisioner dari kepengurusan fokus untuk melakukan evaluasi, check and recheck terhadap kesiapan penyelenggaraan Mukab terkait kesiapan tempat dan lokasi, materi Mukab dan bahkan jumlah peserta yang katanya mengalami kenaikan peserta yang signfikan, yang ditengarai telah menibulkan perdebatan antar pengurus dan gesekan antara pendukung.
“Berdasarkan info yang saya dengar,sekitar 700 an lebih peserta yang akan mengikuti acara Mukab. Tentu saja hal ini akan menimbulkan persoalan yang tidak bisa dianggap remeh, karena tradisi Mukab Kadin dengan methode pemilihan langsung (one man one vote) baru ada di tahun ini, karena sebelumnya selalu diakhiri oleh aklamasi (calon tunggal yang disepakati),” papar dia.
Menurut Galih, ada yang menarik dan terkesan sarat dengan tarikan isu dan kepentingan, pertama bahwa peletakan batu pertama yang diresmikan tersebut merupakan salah satu isu dan materi kampanye yang pernah disampaikan oleh saudara Yudi Nugraha Lasminingrat sebagai salah satu calon, bahwa progrgam utama dalam mengawali konsolidasi Kadin secara internalnya adalah akan segera membangun kantor Kadin yang refresentatif dan melakukan peletakan batu pertama dalam waktu singkat jika dirinya terpilih dan dilantik menjadi ketua Kadin.
“Jadi ini sangat mungkin dibaca (dipahami) publik bahwa ada semacam penggembosan terhadap gagasan yang disampaikan oleh Yudi, sehingga terkesan program tersebut terkesan mencuri gagasan ketua Kadin sebelumnya yang diklaim oleh Yudi Lasminingrat sebagai kandidat Kadin periode 2020 -2025. Padahal gagasan membangun kantor Kadin itu adalaha bagian dari telaah kritis agar Kadin ke depan menjadi sangat kuat dengan dimulai dari kepemilikan kantor Kadin yang refresentatif,” kata Galih.
Kedua, lanjut dia, di sisi lain peletakan batu pertama oleh ketua Kadin di injuri time (limited progress), satu hari menjelang Mukab VII adalah sangat mengesankan artikulasi point (nilai buatan) dari ketua Kadin agar dalam lembaran laporan pertanggungjawaban terkesan bahwa selama 10 tahun sudah banyak melakukan program kerja sekaligus upaya keras dalam mendapatkan tanah hibah dan yang peletakan batu pertamanya telah dilakukan.
“Dan sebagai mana kita ketahui bahwa dalam pidato peresmiannya Bupati Garut Rudy Gunawan sendiri mengkritik Kadin, bahwa kehadiran Kadin belum dapat dirasakan oleh masyarakat maupun pemerintah terhadap daya dongkrak pertumbuhan ekonomi, dan Kadin ke depan tidak hanya berpoyeksi pada pekerjaan yang dianggarkan dari APBD (usaha pemerintah) semata,” ujar Galih.
Namun demikian, ia tetap berpostif thingking bahwa rangkaian acara peletakan batu pertama pembangunan kantor Kadin adalah upaya ketua Kadin terdahulu dan pemerintah daerah dalam memberikan support terhadap pengurus Kadin agar Kadin ke depan bisa lebih baik dan progresif, lebih memahami tugas dan fungsinya yang strategis sehingga dapat melakukan upaya peningkatan dan mewujudkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
“Sebagai bagian dari masyarakat Garut, saya berharap agar acara Mukab VII Kadin Garut yang semarak serasa Pilkada ini, antara calon dan para pendukungnya tetap menjungjung sportivitas, fair play, dan tetap mengedepankan etika dan kebersamaan. Tidak saling menyudutkan apalagi melakukan character assassination (pembunuhan karakter) yang tidak ada relevansinya dengan program kerja , misi visi para kandidat,” ujar aktivis ’98 ini.
Semoga pemilihan ketua Kadin Garut periode 2020-2025 ini, kata Galih, dapat melahirkan ketua Kadin yang mampu menjadi solusi atas persoalan keterpurukan ekonomi, ketertinggalan pembangunan, dan menjadi mitra pemerintah yang mendorong pencapaian tatanan masyarakat Garut yang bertakwa, maju, dan sejahtera. ***



.png)











