Berita

Ironi di Tengah Kekayaan Alam Garut, Anak Putus Sekolah karena Tak Punya Baju Seragam dan Buku

×

Ironi di Tengah Kekayaan Alam Garut, Anak Putus Sekolah karena Tak Punya Baju Seragam dan Buku

Sebarkan artikel ini
Ketua dan Sekretaris Dewan Pendidikan Garut, Nanang SH (kanan) dan Dedi Kurniawan, dalam sebuah podcast di radio.

GOSIPGARUT.ID — Dewan Pendidikan Kabupaten Garut menyoroti masih banyaknya anak putus sekolah di sejumlah wilayah Garut akibat persoalan ekonomi yang sangat mendasar, mulai dari tidak memiliki buku tulis hingga baju seragam sekolah. Kondisi tersebut dinilai menjadi ironi di tengah melimpahnya potensi sumber daya alam dan keberadaan sejumlah perusahaan besar di Kabupaten Garut.

Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Garut, Dedi Kurniawan, mengatakan laporan mengenai anak tidak sekolah dan putus sekolah terus berdatangan hampir setiap hari dari masyarakat maupun aktivis pemerhati pendidikan.

“Tidak jarang anak putus sekolah itu akibat minder karena tidak memiliki buku atau baju seragam. Ini yang membuat kami tidak habis pikir,” ujar Dedi, Selasa (26/5/2026).

Baca Juga:   Permatani Perluas Demplot KSP ke Garut, Dorong Produktivitas dan Ketahanan Pangan Daerah

Menurut dia, persoalan tersebut tidak seharusnya terus terjadi di daerah yang memiliki potensi ekonomi besar. Garut, kata Dedi, memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, mulai dari sektor kelautan, perikanan, perkebunan, pertambangan, hingga energi panas bumi yang dikelola perusahaan nasional maupun multinasional.

Namun di sisi lain, masih banyak keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar pendidikan anak-anak mereka.

“Ironis, di tengah banyaknya perusahaan besar dan kekayaan alam di Garut, masih ada anak-anak yang harus berhenti sekolah hanya karena tidak punya alat tulis atau baju seragam,” katanya.

Dedi menilai kondisi tersebut menunjukkan belum optimalnya kepedulian sosial seluruh pihak, termasuk dunia usaha, terhadap persoalan pendidikan di daerah. Ia mempertanyakan sejauh mana kontribusi perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan masyarakat.

Baca Juga:   Gugatan Dicabut, Sekolah Swasta dan Pemprov Jabar Sepakat Perangi Anak Putus Sekolah

Menurut Dedi, sektor pendidikan seharusnya menjadi perhatian bersama karena berkaitan langsung dengan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya angka Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di Garut yang dinilai masih perlu ditingkatkan.

“Perusahaan mencari keuntungan di Garut, tetapi problem pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ucapnya.

Dedi juga menyoroti proses penyaluran CSR yang dinilai masih terlalu birokratis sehingga bantuan tidak selalu tepat sasaran. Padahal, kata dia, banyak anak yang membutuhkan bantuan sederhana agar tetap bisa bersekolah.

Baca Juga:   Pemprov Jabar Gerak Cepat Tangani Dampak Gempa di Bandung dan Garut

Melalui momentum Idul Adha 1447 Hijriah, Dewan Pendidikan Kabupaten Garut mengajak seluruh perusahaan, termasuk BUMN dan perusahaan multinasional yang beroperasi di Garut, untuk lebih aktif membantu sektor pendidikan.

“Jangan sampai ada lagi anak-anak yang kehilangan masa depan hanya karena tidak punya buku atau seragam sekolah. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” kata Dedi.

Ia berharap pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat membangun gerakan bersama untuk menekan angka anak putus sekolah sekaligus memperkuat akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu di Kabupaten Garut. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *