GOSIPGARUT.ID — Yayasan Al-Musaddadiyah menapaki usia emas. Tepat pada Sabtu, 23 Agustus 2025, yayasan yang didirikan Prof. K.H. Anwar Musaddad (Alm.) dan Hj. Atikah Musaddad (Alm.) ini genap berusia 50 tahun. Perayaan ini sekaligus menjadi momentum Haol ke-25 sang pendiri, sosok ulama kharismatik yang meninggalkan warisan besar di bidang pendidikan.
Berlokasi di kompleks Yayasan Al-Musaddadiyah, Jalan Subyadinata, Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, acara ini berlangsung khidmat namun penuh semarak. Ribuan tamu hadir, mulai dari keluarga besar Musaddadiyah, para alumni lintas angkatan, hingga tokoh masyarakat. Bupati Garut, H. Abdusy Syakur Amin — yang juga cucu dari K.H. Anwar Musaddad — turut hadir memberi penghormatan.
“Alhamdulillah, 50 tahun bukan waktu yang sebentar. Kita masih eksis dan tetap berkontribusi di dunia pendidikan,” ujar Sekretaris Yayasan, Ali Ibrahim, S.Kom, kepada wartawan.
Sejak berdiri pada 1975, Yayasan Al-Musaddadiyah menjadi mercusuar pendidikan di Kabupaten Garut. Dari lembaga ini lahir berbagai institusi ternama: STAI Al-Musaddadiyah (1976), Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah (1990), MTs Al-Musaddadiyah (1993), hingga SMK Ciledug Al-Musaddadiyah (1996).
Ratusan bahkan ribuan alumni telah berkiprah, dari birokrat hingga intelektual. Tiga di antaranya pernah menjabat kepala daerah: Aceng Fikri (Bupati Garut nonaktif), Doni Ahmad Munir (Bupati Sumedang), dan Abdusy Syakur Amin (Bupati Garut).
“Ini bukti nyata bahwa pendidikan yang kami jalankan memberi dampak besar. Tidak hanya untuk Garut, tapi juga Jawa Barat,” kata Ali.
Perayaan setengah abad ini tidak hanya seremoni. Sejak Juli, rangkaian kegiatan digelar: jalan sehat, lomba olahraga, dakwah, hingga e-sport untuk siswa MTs. Ada pula bakti sosial berupa pemeriksaan kesehatan, layanan mata gratis bekerja sama dengan RS Cicendo, serta pemeriksaan pendengaran bersama PT Hiring Kasum Jakarta.
Puncak acara adalah Haol Akbar untuk mengenang jasa Prof. K.H. Anwar Musaddad. “Sambutan masyarakat luar biasa. Semua elemen hadir, mulai dari warga sekitar hingga para tokoh NU. Ini bukan sekadar milad, tapi refleksi perjalanan panjang kami dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” tutup Ali. (Yuyus)



.png)





