GOSIPGARUT.ID — Suasana Pendopo Kabupaten Garut, Selasa siang, 12 Agustus 2025, terasa lebih ramai dari biasanya. Di bawah langit musim kemarau yang terik, ratusan mahasiswa berjaket almamater hijau tua berbaris rapi, siap dilepas untuk sebuah misi: mengubah wajah desa.
Sebanyak 320 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pasundan (Unpas) Bandung akan menghabiskan sepuluh hari di Kecamatan Bayongbong. Mereka menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik dengan tema “Membangun Desa Cerdas Mencetak Generasi Unggul”.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Asep Wawan Budiman, yang hadir langsung melepas rombongan, memberikan pesan sederhana tapi tegas: manfaatkan ilmu, berikan inspirasi.
“Di Bayongbong ada 14 SMP, 55 SD, dan 45 Paudikmas. Jadikan itu ladang pengabdian. Sedikit banyak, kalian bisa memengaruhi keberadaan pendidikan di sana, terutama di tujuh desa yang akan dikunjungi,” ujar Asep di hadapan mahasiswa.
Ia menekankan pentingnya etika dan teladan. “Saya yakin kalian adalah kaum intelektual. Sikap dan perilaku kalian akan ditiru warga. Tunjukkan bahwa kalian layak jadi panutan,” katanya, disambut anggukan mahasiswa yang sebagian menenteng ransel besar.
Kegiatan ini, lanjut Asep, diharapkan berjalan lancar, selamat, dan membawa manfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat. “Anggap ini amal ibadah,” ucapnya.
Lima Program Unggulan
Ketua Pelaksana KKNT FKIP Unpas, Ida Yayu Nurul Hizqiyah, menjelaskan, KKN ini adalah implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi. Para mahasiswa tak hanya belajar dari masyarakat, tapi juga membawa solusi.
Ada lima program unggulan yang akan dijalankan:
1. Pengolahan sampah dengan teknologi biologi— mengubah limbah organik menjadi kompos.
2. Budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) — mendorong kemandirian kesehatan warga.
3. Peningkatan kapasitas UMKM — mengasah keterampilan bisnis pelaku usaha lokal.
4. Pelatihan digital marketing — memperluas pasar produk desa.
5. Pengembangan kreativitas UMKM berbasis pertanian — menambah nilai jual hasil bumi.
Selama sepuluh hari, para mahasiswa akan tersebar di tujuh desa: Pamalayan, Ciburuy, Cinisti, Hegarmana, Sukamanah, dan Karyajaya. Mereka didampingi tujuh Dosen Pendamping Lapangan (DPL) yang akan memandu implementasi program.
Ida Yayu berharap kehadiran para mahasiswa menjadi pemantik perubahan. “Kami ingin mereka menjadi fasilitator, membantu mencetak masyarakat unggul yang mampu bersaing di era global,” ujarnya.
Dari Desa, Untuk Masa Depan
Bayongbong, dengan lereng-lerengnya yang hijau dan udara pegunungan yang segar, akan menjadi laboratorium hidup bagi para mahasiswa. Selama di sana, mereka akan tidur di rumah warga, makan bersama, dan ikut dalam denyut kehidupan desa.
Bagi sebagian orang, sepuluh hari mungkin waktu yang singkat. Tapi bagi mahasiswa ini, itu adalah kesempatan untuk merajut hubungan, menyerap kearifan lokal, dan menanamkan benih perubahan yang bisa tumbuh lama setelah mereka kembali ke kampus. ***



.png)










