GOSIPGARUT.ID — Di balik aroma sedap ayam kampung bakar dan sate kambing di Pengkolan Balongsirah, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, terselip kisah tekad dan kesabaran seorang penjual kaki lima. Selama 16 tahun, Dedi Darmita (61) menyisihkan sebagian pendapatannya untuk satu tujuan: membangun masjid di kampungnya.
Kini, masjid semi permanen berukuran 50 meter persegi berdiri kokoh di Kampung Kacapi, Desa Pamalayan, tepat di tepi jalan kabupaten yang menghubungkan pusat Kota Cisewu dengan Desa Cimahi, Kecamatan Caringin. Jalan ini menjadi nadi lalu lintas warga, terutama dari Desa Cikarang dan Pamalayan.
Alasan Dedi sederhana namun sarat makna. “Saya suka kasihan kalau lihat orang lewat mau sholat, tapi susah cari masjid. Masjid terdekat jaraknya lumayan jauh dari sini,” ujarnya saat ditemui, Minggu (10/8/2025).
Dari hasil menyisihkan Rp25 ribu setiap hari, Dedi mengumpulkan dana Rp144 juta selama 16 tahun. Biaya pembangunan masjid lengkap dengan gazebo dan rest area mini mencapai Rp170 juta. “Kekurangannya saya cari dari sana-sini, tapi tidak sampai meminjam uang orang,” katanya.
Meski tinggal di Kampung Kacapi, rumah Dedi berjarak cukup jauh dari lokasi masjid. Ia berencana membangun rumah di samping masjid agar bisa sekaligus mengelola warung untuk para pelintas. “Lahan untuk rumah dan warung sudah ada. Tinggal bangun saja,” ujarnya sambil tersenyum.
Masjid yang dibangun Dedi kini menjadi persinggahan nyaman bagi warga dan musafir yang melintas. Bagi banyak orang, ia mungkin hanya tukang dagang ayam bakar. Tapi bagi warga Kampung Kacapi, Dedi adalah sosok yang membuktikan bahwa kesungguhan hati bisa melahirkan rumah ibadah yang bermanfaat bagi banyak orang. ***



.png)






