GOSIPGARUT.ID — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, menggelar tabligh akbar — yaitu sebuah acara rutin tahunan dalam rangka menyambut tahun baru Islam, 1447 Hijriyah, di Masjid Alhasanah Cisewu pada Rabu (23/7/2025).
Menghadirkan pentausiah KH Mohammad Najib Komarudin, seorang dai cukup dikenal dan sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Fatwa MUI Kabupaten Garut. Dalam acara yang dihadiri ratusan umat Islam se-Kecamatan Cisewu tersebut, ia membekali hadirin tentang makna dan implementasi hijrah dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut KH Mohammad Najib Komarudin, hijrah merupakan tonggak sejarah perjuangan rosulullah dalam membangun masyarakat dan ukhuwah.
Konsep hijrah secara harfiah berasal dari bahasa Arab, hijrah yang berarti “pindah” atau “bermigrasi”. Dalam konteks Islam, hijrah merujuk pada peristiwa berpindahnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Mekah ke Madinah untuk mencari kebebasan beribadah dan membangun masyarakat Islami.
Namun, makna hijrah tidak terbatas pada perpindahan fisik. Dalam konteks spiritual dan moral, hijrah berarti perubahan atau perpindahan dari sesuatu yang buruk menuju sesuatu yang lebih baik, seperti dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kehidupan tidak teratur menuju yang lebih Islami dan bermakna.
Terdapat lima bentuk hijrah dalam implementasinya di kehidupan sehari-hari. Pertama, hijrah iman dan akhlak. Yaitu menjaga shalat lima waktu, meninggalkan kebiasaan buruk seperti berkata kotor, menipu, atau bermusuhan. Kemudian, mengganti lingkungan pertemanan dengan yang lebih positif dan mendukung kebaikan.
Kedua, hijrah sosial. Dalam hal ini diharuskan untuk aktif membantu sesama, menebarkan perdamaian, kebaikan, dan toleransi dalam lingkungan masyarakat, juga menjadi agen perubahan di tempat kerja, sekolah, atau komunitas dengan nilai-nilai Islam.
Ketiga, hijrah ekonomi, yaitu beralih dari pekerjaan atau usaha yang tidak halal (misalnya riba) menuju pekerjaan yang sesuai syariat, menjalankan usaha dengan jujur dan amanah.
Keempat, hijrah digital dan media: Menghindari konten negatif di media sosial, menggunakan media digital untuk berdakwah, menyebar kebaikan, atau edukasi agama.
“Kelima, hijrah pribadi, yakni meningkatkan kualitas diri melalui ilmu, dzikir, dan introspeksi (muhasabah), memperbaiki niat dalam setiap aktivitas agar bernilai ibadah,” kata KH Mohammad Najib Komarudin.
Sementara itu, Ketua MUI Kecamatan Cisewu, H Oong Somara menjelaskan, bahwa acara tabligh akbar menyambut tahun baru Islam tersebut diselenggarakan secara rutin oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) bekerjasama dengan MUI Kecamatan Cisewu.
Dihadiri oleh para kepala unit pelaksana teknis (UPT), kepala desa, pengurus majelis ulama desa, majelis taklim desa Cisewu, pengurus DKM Alhasanah, staf KUA, dan penyuluh agama. “Tak ketinggalan para kepala SD, SMP, dan SMA,” jelas dia.
Oong Somara menyebut, jumlah yang hadir dalam acara itu mencapai 300 orang. Sedangkan Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) yang ikut berbicara memberikan pembekalan adalah Plt Camat Cisewu Muhammad Badar Hamid. ***



.png)









