GOSIPGARUT.ID — Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Intan Garut, akan melakukan penyesuaian tarif bagi para pelanggannya yang akan diberlakukan mulai tahun 2022. Penyesuaian tarif ini, merupakan rencana yang telah ditunda sejak tahun 2019.
Bupati Rudy Gunawan, membenarkan adanya penyesuaian tarif PDAM Garut yang akan diberlakukan mulai tahun 2022. Menurutnya, penyesuaian tarif ini memang harus dilakukan PDAM Garut mengingat tarif yang berlaku saat ini, merupakan tarif PDAM termurah di Jawa Barat, hingga Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) meminta agar tarifnya disesuaikan.
“Dari kajian BPKP, sebenarnya harganya itu harusnya Rp5600 per meter kubik,” jelas dia saat ditemui di Pendopo, Selasa (21/12/2021) sore.
Selain rekomendasi dari BPKP, menurut Rudy, PDAM juga telah memperhitungkan kemampuan pelanggan, di mana di tahun 2022 mendatang, laju perekonomian Garut diprediksi akan tumbuh hingga 3 persen. Hingga, penyesuaian tarif akan dilakukan tahun 2022.
Ia menuturkan, jika PDAM Tirta Intan Garut tidak bisa melakukan penyesuaian tarif saat ini, PDAM bisa saja bangkrut. Apalagi, tahun 2022 mendatang, pemerintah daerah tidak bisa memberikan dan penyertaan modal karena ditolak oleh DPRD Garut.
“Kalau tidak menaikan, PDAM akan kolaps, apalagi daerah tidak memberikan penyertaan modal. Kemarin ditolak DPRD yang rencananya Rp5 miliar dengan alasan PDAM merugi, padahal tidak,” kata Rudy.
Ia menyampaikan, di bawah kepemimpinan manajemen baru, PDAM Garut memiliki kinerja keuangan yang cukup baik. Hutang-hutang perusahaan di bawah manajemen sebelumnya yang mencapai Rp12 miliar, saat ini sudah mulai dibayar hinga tersisa hanya Rp5 miliar.
“PDAM tidak merugi, cuma PDAM itu salah urus, mereka tidak rugi,” tegas Rudy.
Terkait biaya produksi air yang dikeluarkan PDAM, menurutnya, dari hitungan BPKP, biaya produksi air per meter kubik itu, angkanya mencapai Rp4000 per meter kubik. Di daerah lain di Jawa Barat, kata Rudy, harga yang ditetapkan rata-rata sudah diatas Rp4 ribu per meter kubik, bahkan hingga Rp5 ribu per meter kubiknya.
“Memang masih paling rendah, yang lain sudah Rp5 ribu, rata-rata di atas Rp4 ribu,” ujarnya.
Rudy merasa yakin, dengan manajemen PDAM saat ini, kebijakan penyesuaian tarif tersebut, bisa meningkatkan pelayanan pada pelanggan hingga lebih berkualitas, berkesinambungan dan penambahan jaringan serta revitalisasi jaringan bisa dilakukan.
“Jaringan utama yang ada saat ini, ada yang dibangun sejak tahun 1927, sebelum merdeka. Ini akan di revitalisasi karena rentan gangguan, kita sudah perhitungkan butuh Rp70 miliar,” katanya.
Rudy juga menyoroti soal besarnya tingkat kebocoran air yang masih diatas 50 persen. Hal ini terjadi karena berbagai faktor dari mulai jaringan yang sudah tua hingga bocor di jalan, pencurian air dan lainnya yang setelah penyesuaian tarif, tingkat kebocoran ini akan diperbaiki.
“Misalnya produksi airnya mencapai 50 meter kubik, tapi yang bisa dijual hanya setengahnya saja. Sisanya, karena berbagai hal, tidak bisa terjual karena kebocoran, pencurian air dan lainnya,” katanya. ***



.png)























