oleh

Rumah Budaya Sunda Galuh Pakuan dan Kemendikbud Sukses Gelar Ruwatan Bumi di Cisewu

GOSIPGARUT.ID — Rumah Budaya Sunda Galuh Pakuan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sukses menggelar “Ruwatan Bumi” yang berlangsung di Kampung Lio, Desa/Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Digelar selama tiga hari tiga malam, yaitu Kamis hingga Sabtu (14 -16/10/2021), acara tersebut mampu menyedot perhatian ribuan penonton.

Ketua panitia penyelenggara, Gun Gun Nugraha, mengatakan kegiatan berupa upacara ritual adat dan pesta budaya itu melibatkan sejumlah grup seni yang ada di Garut Selatan, Kabupaten Bandung, Subang, dan Cianjur. Biaya penyelenggaraan sepenuhnya ditanggung oleh Kemendikbud.

“Kegiatan ‘Ruwatan Bumi’ ini merupakan nama kegiatan dari fasilitas bidang kebudayaan (FBK) yang selalu diselenggarakan oleh Kemendikbud di sejumlah daerah di Indonesia. Tahun ini Kemendikbud menyelenggarakan sebanyak 124 FBK, salah satunya ‘Ruwatan Bumi’ di Cisewu,” terang Ketua Rumah Budaya Sunda Galuh Pakuan itu.

Dibenarkan salah seorang wakil dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud saat membuka acara “Ruwatan Bumi”, bahwa untuk tahun 2021 ini Kemendikbud menerima 5000 permohonan FBK di seluruh Indonesia, namun yang diakomodir hanya 124 kegiatan.

Baca Juga:   Pemerintah Buka Pendaftaran PPPK untuk Guru Honorer di Tahun 2021

“Untuk di Cisewu ini, permohonan FBK yang diakomodir adalah kegiatan ‘Ruwatan Bumi’ yang diajukan oleh lembaga bernama Rumah Budaya Sunda Galuh Pakuan. Sementara satu permohonan FBK lagi yang diajukan oleh perorangan, tidak diakomodir. Nama FBK yang diusulkan perorangan itu adalah ‘Festival Musik Bambu’,” papar dia.

Gun Gun menambahkan, sebelumnya — yaitu pada tahun 2019, pihaknya sudah mengajukan permohonan FBK ke Kemendikbud yang akan digelar di Desa/Kecamatan Cisewu. Sayangnya, permohonan pernyelenggaraan FBK bernama “Gunung Gedogan Festival” tersebut tidak diakomodir pihak penyandang dana program itu.

Karena permohonan FBK tidak diakomodir, maka untuk tahun 2019 pihaknya kembali menyelenggarakan kegiatan budaya yang sudah diusungnya sejak tahun 2013 bernama “Hajat Lembur”. Kegiatan ini lebih menonjolkan pada pesta budaya, berbeda dengan “Ruwatan Bumi” yang menggabungkan antara ritual dengan pesta budaya.

“Biaya penyelenggaraan ‘Hajat Lembur’ tentunya secara swadaya, berbeda dengan ‘Ruwatan Bumi’ yang sepenuhnya ditanggung oleh Kemendikbud. Sayangnya, untuk mendapatkan FBK dari Kemendikbud kami tidak bisa mengusulkan tiap tahun. Setelah tahun ini dapat FBK, paling dua tahun kemudian kami bisa mengusulkan lagi,” ujar Gun Gun.

Baca Juga:   Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng Dilantik Kembali Sebagai Rektor Uniga Periode 2019-2023

Ia mengaku cukup bangga karena akhirnya Kemendikbud bisa mengakomodir usulan pihaknya untuk menyelenggarakan ‘Ruwatan Bumi’ di Cisewu. Kebanggaan jajaran Rumah Budaya Sunda Galuh Pakuan tambah besar lagi karena kegiatan ini mendapat antusiasme cukup besar dari masyarakat.

Tawasulan dan do’a bersama dalam rangkaian acara “Ruwatan Bumi”. (Foto: Istimewa)

Memang, sebagaimana pantauan di lokasi kegiatan, sejak acara “Ruwatan Bumi” dimulai pada Kamis pagi (14/10/2020) hingga berakhir pada Sabtu malam (16/10/2021), masyarakat yang menyaksikan setiap sesi acara (baik ritual budaya maupun pesta budaya) selalu berjubel. Mereka tak menghiraukan kondisi cuaca, meski sesekali turun hujan.

Prosesi acara “Ruwatan Bumi” sendiri diawali dengan ritual ruwatan bumi, riung mungpulung, tawasulan dan do’a bersama. Kemudian disambung oleh penyajian seni hadroh, dan hari pertama ditutup oleh kegiatan “Ngadu Bako dan Kacapi Pantun”.

Di hari kedua, acara “Ruwatan Bumi” diawali oleh ritual miara pajaratan. “Dalam acara ini seluruh peserta mengikuti ritual di makamnya salah seorang tokoh masyarakat yang merupakan ‘pembuka lembur’ Kampung Cikangkung, Desa Cisewu,” kata Gun Gun.

Baca Juga:   SMK Sorong Papua Barat Studi Banding ke SMKN 1 Garut

Seletah ritual miara pajaratan, selepas sholat Jumat, rangkaian acara dilanjutkan oleh game doorprize, kemudian rampak tari, tari tunggal, dan pencak silat. Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan kesenian calung. Hari kedua ditutup dengan penampilan seni tradisional bajidoran dan lais.

Keesokan harinya, yaitu di hari ketiga, acara diawali oleh upacara mapag kawung, kemudian seni terbang dan kegiatan melak kawung. Acara dilanjutkan dengan ritual miara hulu cai, lalu helaran berupa penampilan seni gegel jubleg, buncis, gesrek, reak, dan terbang sejak.

Masih di hari ketiga (sore hari), acara dilanjutkan dengan berbagai atraksi helaran. Pada malam harinya diselenggarakan janturan wayang, dan acara “Ruwatan Bumi” ditutup oleh pagelaran wayang golek yang menampilkan kelompok seni wayang golek dari Kabupaten Cianjur. ***

 

Komentar

Berita Terkait