GOSIPGARUT.ID — Tebing setinggi 500 meter di Kampung Cigentur, Desa/Kecamatan Cisewu, Gabupaten Garut, ambruk pada Jum’at (4/12/2020) pagi. Akibatnya, belasan hektare lahan sawah yang berada di bawah tebing itu tertutup tanah longsor.
Sejumlah warga Kampung Cigentur yang berhasil ditemui di lokasi bencana mengatakan, peristiwa ambruknya tebing tinggi yang bernama Citalaga tersebut terjadi pada pukul 10:30 WIB, ketika sebagian warga tengah bekerja di sawah yang ada di sekitar tebing.
“Saat kami sedang beraktivitas di sawah, bumi terasa bergetar. Saya kira itu terjadi gempa. Namun ketika melihat ke bagian atas tebing, terlihat tanahnya bergerak dan berjatuhan ke bawah. Setelah mengetahui terjadi tanah longsor, saya pun lari menyelamatkan diri,” kata Ida, salah seorang warga.
Sawah dan rumah milik Ida dan 15 kepala keluarga (KK) lainnya, warga RT 03 RW 05 Kampung Cigentur, letaknya tidak jauh dengan lokasi longsor. Untungnya, tidak seorang wargapun yang menjadi korban jiwa. Begitu juga dengan rumah warga tidak ada yang tertimbun tanah.
“Tidak ada warga yang tengah bekerja di lahan pesawahan maupun yang sedang berada di rumah-rumah dekat lokasi bencana yang menjadi korban ambruknya tebing. Karena, selain mereka cepat menyelamatkan diri, jatuhnya bongkahan tanah longsor tidak sampai pada keberadaan warga maupun rumah-rumah warga,” jelas warga lainnya, Dadang.
Hanya sebagian lahan sawah yang tertimbun tanah longsor. Menurut petugas dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Cisewu yang bertemu di lokasi bencana, bahwa lahan pesawahan yang tertimbun tanah longsor tebing sekira 15 hektare.
“Perkiraan kami, ada 15 hektare lahan pesawahan yang tertimbun tanah akibat ambruknya tebing Citalaga,” terang Yuga, petugas penyuluh pertanian di Desa Cisewu.
Dampak dari ambruknya tebing itu, kini banyak warga dari RW 04 Kampung Cigentur dan RW 03 Kampung Piket yang mengungsi karena khawatir terjadi longsor susulan.
Anggota BPD Cisewu, Ade Gunawan, menyebut sebanyak 383 jiwa dari RW 03 mengungsi di aula Desa Cisewu, dan sebanyak 282 jiwa (11 KK) mengungsi di Madrasah Ibtidaiyah Anur Kampung Cigentur, serta yang mengungsi di Kampung Cisamak sebanyak 23 jiwa.
“Saat ini kondisi para mengungsi sangat memprihatinkan. Mereka sangat membutuhkan sembako dan obat-obatan,” ujar dia. ***



.png)










