GOSIPGARUT.ID — Kepengurusan baru Nahdlatul Ulama hasil Muktamar ke-35 diharapkan mampu memperkuat konsolidasi dengan warga NU kultural. Keberadaan jemaah yang menjalankan tradisi NU tanpa masuk dalam struktur formal organisasi dinilai menjadi pilar utama kekuatan jam’iyah di tengah masyarakat.
Ketua Dewan Adat Sunda (Datsun) Kabupaten Garut yang juga pengurus Majelis Adat Sunda (Masda) Jawa Barat, Oos Supyadin, menegaskan bahwa memilih menjadi NU kultural adalah opsi yang sah. Menurutnya, potensi warga yang mengamalkan tradisi Nahdliyin di luar struktur resmi justru jumlahnya sangat besar.
”Menjadi NU kultural berarti tetap mengamalkan tradisi, amaliah, dan cara berpikir NU tanpa harus masuk dalam kepengurusan formal di bawah PBNU. Ini pilihan yang sah dan menjadi bagian besar dari kekuatan nyata warga di tengah masyarakat,” kata Oos kepada GOSIPGARUT.ID, Rabu, 2 September 2026.
Oos mencatat setidaknya ada tiga karakteristik utama NU kultural. Pertama, fokus pada amaliah keagamaan seperti tahlilan, yasinan, maulidan, dan membaca doa Qunut. Praktik-praktik ini dijalankan secara independen tanpa keterikatan Kartu Tanda Anggota (KTA) maupun jabatan pengurus.
Kedua, memiliki kebebasan moral. Posisi di luar birokrasi organisasi membuat NU kultural lebih leluasa menjalankan fungsi kontrol sosial tanpa terbebani kepentingan politik praktis. Ketiga, fleksibilitas gerakan dakwah yang dapat menyentuh akar rumput secara langsung tanpa sekat administratif.
Meski begitu, Oos menekankan bahwa jalur kultural dan struktural bukanlah dua hal yang berseberangan dalam bingkai keluarga besar NU. Keduanya dinilai saling melengkapi.
”Struktur organisasi berfungsi melindungi kemaslahatan dan mengordinasikan kebijakan, sementara kultural tumbuh dari akar tradisi. Tidak ada struktur tanpa kultur, dan kultur membutuhkan struktur sebagai pengokoh perjuangan,” ujarnya.
Oos berharap duet kepemimpinan Rois ‘Aam dan Ketua Umum PBNU yang baru terpilih dapat merangkul seluruh jaringan kultural ini. Konsolidasi yang inklusif dinilai penting agar NU tidak sekadar besar secara kuantitas, tetapi juga kokoh secara kualitas.
”Semoga kepemimpinan baru dapat merangkul jaringan kultur NU di mana pun dan apa pun perannya. Dengan begitu, NU bukan saja menjadi ormas Islam terbesar, tetapi juga yang terkuat, membawa maslahat bagi umat, serta menjadi perekat persatuan bangsa,” tutur dia. ***



.png)










