GOSIPGARUT.ID — Rumput laut (bahan baku agar-agar) adalah komoditas unggulan yang dihasilkan warga di sepanjang Pantai Pasanggrahan, Desa Indralayang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut. Pemasukan material (uang) dari rumput laut, bagi warga di pesisir Samudera Indonesia itu merupakan terbesar setelah komoditas pertanian.
“Meski ada juga yang memiliki penghasilan dari penjualan ikan laut tapi jumlahnya tidak terlalu besar. Orang sini, terutama yang memiliki perahu, memang ada juga yang bermatapencaharian sebagai nelayan dan bergabung dengan nelayan di Pantai Rancabuaya (Desa Purbayani),” ujar Mak Isoh (61), saat ditemui di Pantai Pasanggrahan Rabu (7/10/2021).
Ketika ditemui menjelang dzuhur, Mak Isoh sedang mengumpulkan batu-batu pantai yang terhampar di sepanjang Pantai Pasanggrahan. Menurut perempuan beranak empat ini, mengumpulkan batu-batu pantai adalah merupakan matapencahariannya selain bertani. Penghasilan dari menjual batu tersebut lumayan juga, yakni cukup untuk menutupi kebutuhan dapur sehari-hari.
“Kalau dulu, saya juga suka mengambil rumput laut untuk dijual. Tapi setelah badan tidak tahan dengan air laut, ya pekerjaan beralih pada pengumpulan batu. Kalau ngumpulin batu itu kan tidak harus basah-basahan dengan air. Badan saya ini sudah tidak kuat sama dingin,” terang Mak Isoh.
Ia menjelaskan, selain dirinya dan suami, Endang, masih banyak warga Kampung Pasanggrahan yang bekerja mengumpulkan batu-batu pantai mengingat permintaan pasar akan potensi alam itu cukup besar. Menurut Endang, Permintaan bukan hanya dari warga lokal (Garut Selatan), melainkan juga dari daerah tetangga seperti Cianjur Selatan dan Tasikmalaya Selatan.
“Dari dalam kota Garut juga ada yang datang dan membeli batu pantai ini. Mereka membutuhkan batu pantai untuk hiasan atau lantai rumah,” kata dia.
Endang menuturkan, para wanita pengumpul batu seperti Mak Isoh itu tugasnya hanya mengumpulkan batu-batu dari kawasan pantai ke tempat yang sudah ditentukan oleh masing-masing penambang batu. Mereka tidak lama-lama bekerja mengumpulkan batu tersebut. Seperti Mak Isoh, hanya bekerja 4 jam, dari pagi hingga menjelang dzuhur.
“Sebentar lagi saya mesti pulang, harus sholat dzuhur di rumah. Kalau terlalu lama kerjanya, tidak kuat panas. Maklum saya ini sudah tua,” terang Mak Isoh.
Sementara Endang menambahkan, setelah batu-batu dikumpulkan para wanita di tempatnya, kemudian para lelakinya mengolah batu-batu tersebut menjadi split dengan cara dipecah menggunakan alat manual seperti palu atau martil.
“Setelah menjadi batu split, kemudian pembeli sendiri yang datang ke sini untuk mengambilnya. Kebanyakan mereka yang membawa kendaraan sendiri, berupa mobil truk,” ucapnya.
Mak Isoh menimpali, untuk harga batu split produksi warga Pantai Pasanggrahan adalah Rp150 ribu per kubik. Adapun untuk batu pantai yang belum dipecah harganya Rp25 ribu per karung (isi 10 kilogram).
“Kalau Bapak punya teman atau saudara yang memerlukan batu split atau batu pantai untuk hiasan rumah, bisa Bapak tawarkan batu produksi kami. Saya percaya, untuk batu pantai yang kualitasnya bagus dan dan ketersediaannya banyak hanya ada di sini,” kata Mak Isoh. ***



.png)
























