Berita

Pengungsi Korban Tebing Ambruk di Cisewu Butuh Bantuan Sembako dan Obat-obatan

×

Pengungsi Korban Tebing Ambruk di Cisewu Butuh Bantuan Sembako dan Obat-obatan

Sebarkan artikel ini
Para pengungsi korban tebing ambruk yang ditampung di aula GOR Desa Cisewu, membutuhkan bantuan. (Foto: Galih Pawarti)

GOSIPGARUT.ID — Sebanyak 688 jiwa korban terdampak ambruknya tebing setinggi 500 meter di Kampung Cigentur, Desa/Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, kondisinya cukup memprihatinkan. Sekitar enam jam setelah terjadinya musibah itu pada Jumat (4/12/2020) pagi, kini mereka menderita aneka penyakit ringan seperti kepala pusing, batuk, dan sesak nafas.

“Oleh karena itu kami sangat membutuhkan bantuan berupa obat-obatan selain sembako. Saat ini bantuan pengobatan yang baru kami dapatkan yaitu dengan keterlibatan petugas medis dari Puskesmas Cisewu yang standby di tempat pengungsian,” kata Ade Gunawan, anggota BPD Cisewu sekaligus anggota tim penanganan pengungsi korban terdampak tebing ambruk.

Ia menjelaskan, meski ada petugas medis yang siaga di lokasi pengungsian, namun ketersediaan obat-obatan sangat terbatas. “Selain itu kami pun membutuhkan sembako untuk kebutuhan pangan para pengungsi,” kata Ade.

Baca Juga:   Karena Berobat di Klinik, Pengungsi Bencana Cisewu Terpaksa Harus Bayar

Ia menambahkan, bantuan sembako (pangan) yang didapatkan baru dari masyarakat di sekitar tempat pengungsian dengan jumlah terbatas dan hanya cukup untuk sehari pertama saja. Sementara untuk hari-hari berikutnya, tim penanganan pengungsi masih kebingungan dari mana mendaparkan bahan sembako.

“Kami memperkirakan para pengungsi akan bertahan di tempat pengungsian sampai beberapa hari ke depan. Kami pun berencana membuka dapur umum untuk melayani pemberian makan para pengungsi,” tutur Ade.

Baca Juga:   Sudah Enam Hari, Proses Evakuasi Kapal Edricko 3 yang Terdampar di Pantai Sancang Belum Berhasil

Ia menjelaskan, para pengungsi itu adalah warga yang mencemaskan terjadinya longsor susulan dan menimpa rumah-rumah mereka. Para pengungsi datang dari dua kampung, yakni Kampung Cigentur dan Piket.

“Sebanyak 383 jiwa dari RW 03 (Kampung Piket) mengungsi di aula Desa Cisewu, dan sebanyak 282 jiwa dari RW 04 (Kampung Cigentur) mengungsi di Madrasah Ibtidaiyah Anur, serta yang mengungsi di Kampung Cisamak sebanyak 23 jiwa,” ujar Ade. ***

Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *