Wisata

Menelusuri Garut 1910–1920-an, Saat Dijuluki “Swiss van Java” dan Jadi Primadona Wisata Priangan

×

Menelusuri Garut 1910–1920-an, Saat Dijuluki “Swiss van Java” dan Jadi Primadona Wisata Priangan

Sebarkan artikel ini
Suasana Kota Garut antara tahun1910–1920-an.

GOSIPGARUT.ID — Sebuah pameran arsip foto membawa publik menelusuri wajah Kabupaten Garut pada dekade 1910–1920-an, ketika wilayah di selatan Jawa Barat itu dikenal luas sebagai “Swiss van Java”. Melalui dokumentasi visual era kolonial, pengunjung diajak melihat bentang alam, geliat pariwisata, hingga tata kota Garut di bawah administrasi Hindia Belanda.

Pada awal abad ke-20, kawasan Cipanas di kaki Gunung Guntur berkembang menjadi destinasi wisata unggulan. Pemandian air panas alami dan panorama pegunungan yang mengelilingi kota dipromosikan pemerintah kolonial sebagai daya tarik eksotis Priangan.

Foto-foto hitam putih yang ditampilkan memperlihatkan hamparan kebun, jalan-jalan tanah membelah perbukitan, serta suasana pedesaan yang masih asri. Lanskap itu menggambarkan Garut sebagai kota kecil yang tenang, namun mulai bergerak menuju modernitas kolonial.

Suasana Kota Garut antara tahun1910–1920-an.

Salah satu ikon kejayaan pariwisata masa itu adalah Hotel Papandayan. Pada masanya, hotel tersebut dikenal sebagai salah satu yang termewah di Priangan. Arsitektur kolonial dengan sentuhan tropis menjadikannya simbol eksklusivitas sekaligus pusat pergaulan elite.

Baca Juga:   Wisatawan Ramai Kunjungi Objek Wisata di Garut, Kamar Hotel 90 Persen Penuh

Tak jauh dari pusat kota, berdiri pula Hotel Ngamplang di kawasan dataran tinggi. Hotel ini menawarkan pemandangan lapangan golf dan pegunungan yang memikat wisatawan Eropa serta pejabat kolonial. Dalam dokumentasi visual, hotel-hotel tersebut bukan sekadar tempat menginap, melainkan ruang sosial tempat bertemunya pejabat pemerintahan, pengusaha perkebunan, hingga pelancong mancanegara.

Selain sektor pariwisata, arsip foto juga menampilkan bangunan pemerintahan dan fasilitas umum yang mencerminkan tata kota yang mulai tertata. Jalan raya yang lebar, jembatan kokoh, serta kantor administrasi menunjukkan sistem kolonial yang terstruktur.

Suasana Kota Garut antara tahun1910–1920-an.

Namun di balik kemegahan arsitektur dan promosi wisata, tersimpan dinamika sosial yang kompleks. Sistem perkebunan, stratifikasi masyarakat, hingga praktik kerja paksa menjadi bagian dari realitas sejarah pada masa itu.

Baca Juga:   Mesti Diwaspadai, Jalur ke Objek Wisata Darajat Miliki Lintasan Berbahaya

Kurator pameran menyebutkan, dokumentasi visual tersebut tidak hanya menyuguhkan romantisme masa lalu, tetapi juga menjadi arsip penting untuk membaca ulang sejarah Garut. Foto-foto itu merekam interaksi antara alam, kolonialisme, dan masyarakat lokal dalam membentuk identitas kota.

Melalui pameran ini, masyarakat diajak memahami bahwa Garut hari ini merupakan hasil perjalanan panjang sejarahnya. Menatap kembali foto-foto era 1910–1920-an bukan sekadar mengenang masa lampau, melainkan juga merawat ingatan kolektif agar tetap hidup dan relevan bagi generasi kini dan mendatang. ***

Suasana Kota Garut antara tahun1910–1920-an.
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *