Berita

MBG di Cisewu Disorot karena Menu Berulang, Guru SD Minta Variasi agar Anak Tak Kehilangan Selera

×

MBG di Cisewu Disorot karena Menu Berulang, Guru SD Minta Variasi agar Anak Tak Kehilangan Selera

Sebarkan artikel ini
Semur telur dan jeruk selalu ada dalam menu MBG di salah satu SPPG Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut.

GOSIPGARUT.ID — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, mendapat sorotan dari kalangan pendidik. Menu yang dinilai berulang sejak beberapa bulan terakhir dikhawatirkan membuat siswa bosan dan mengurangi minat makan, padahal program ini dirancang untuk menunjang gizi dan konsentrasi belajar anak sekolah.

Seorang guru SD negeri di Desa Pamalayan mengungkapkan, dari lima komponen menu yang dibagikan setiap hari, terdapat dua jenis makanan yang hampir selalu muncul, yakni semur telur dan jeruk. Kedua menu tersebut seolah menjadi menu tetap MBG, sementara lauk dan sayuran lainnya hanya sesekali mengalami perubahan.

Pada Selasa (10/2/2026), misalnya, menu MBG yang diterima siswa terdiri dari nasi, semur telur, jeruk, sayur wortel, dan tempe. Meski memenuhi unsur karbohidrat, protein, sayur, dan buah, minimnya variasi membuat anak-anak kurang antusias saat waktu makan bersama di sekolah.

Baca Juga:   Mau Mulai Karir di Dunia Web3? Hadiri 5 Event Kripto Terbesar di Asia Ini (2 Ada di Indonesia!)

“Saya sudah bosan melihat semur telur dan jeruk. Anak-anak juga sering bilang menunya itu-itu saja. Padahal untuk buah, bisa diganti sesekali dengan melon atau semangka supaya lebih menarik,” ujar guru tersebut.

Ia menambahkan, selama program berjalan, lauk berbahan daging baru diberikan sekitar dua kali, yakni daging sapi dan ayam broiler tepung crispy. Namun demikian, meski ada menu daging, semur telur dan jeruk tetap selalu disertakan dalam setiap paket MBG.

Baca Juga:   Dana Sertifikasi Dipotong Rutin, Guru SD di Garut Timur Keluhkan Simpanan Wajib Diblokir

Selain soal menu, persoalan distribusi juga menjadi catatan. Guru tersebut menyebutkan, pengiriman MBG ke sekolahnya pernah mengalami keterlambatan hingga makanan baru tiba mendekati jam pulang sekolah. Kondisi ini membuat siswa harus menunggu lebih lama sebelum akhirnya menerima makanan.

“Anak-anak terpaksa dikumpulkan dulu di halaman sekolah sambil menunggu MBG datang. Ini kurang efektif, karena seharusnya makanan dibagikan saat jam istirahat,” katanya.

Baca Juga:   Karena Alasan Ini Pemudik Diimbau Agar Tingkatkan Kewaspadaan Saat Melintas Jalur Limbangan-Malangbong

Menurut dia, variasi menu dan ketepatan waktu distribusi menjadi kunci keberhasilan program MBG. Dengan perbaikan di dua aspek tersebut, program ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menjaga selera makan dan kenyamanan siswa, sehingga manfaat sosial dan kemanusiaan dari MBG benar-benar dirasakan oleh anak-anak di wilayah perdesaan Garut. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *