GOSIPGARUT.ID — Garut tak sekadar dikenal lewat dodol atau domba Garut. Di mata ekonom senior dan tokoh nasional Emil Salim, daerah di selatan Jawa Barat ini menyimpan kekuatan besar berupa kreativitas masyarakat yang tumbuh alami, berkarakter kuat, dan berpeluang menembus panggung dunia.
Pandangan itu disampaikan Emil Salim saat berkunjung ke Piazza Firenze Garut, belum lama ini. Dalam wawancara eksklusif, ia mengaku terkesan dengan kualitas produk artisan lokal yang berkembang di kawasan tersebut—mulai dari fesyen kulit hingga produk kreatif berbasis identitas daerah.
“Garut itu dodol Garut, Garut itu domba Garut, Garut itu Kopi Darsono,” ujar Emil Salim sambil tertawa. Kalimat singkat itu, menurutnya, mencerminkan betapa kuatnya identitas Garut yang lahir dari kreativitas warganya.
Emil menilai, kreativitas masyarakat Garut bukan fenomena biasa. Ada karakter sosial dan budaya yang membentuk daya cipta unik, berbeda dengan kawasan pegunungan lain di Jawa Barat. Dari karakter itu, kata dia, lahir karya seni dan produk berkualitas yang tidak hanya diapresiasi secara nasional, tetapi juga mulai dilirik dunia internasional.
“Ada sesuatu yang unik di masyarakat sini. Kreativitasnya punya ciri khas dan kualitas. Itu yang membuat saya bertanya-tanya dan sekaligus tertarik, kok bisa lahir kekuatan seperti ini,” ujarnya.
Ia meyakini, jika dikelola secara konsisten dan berkelanjutan, kreativitas lokal Garut dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah sekaligus identitas budaya yang membanggakan di tingkat global.
Keyakinan tersebut sejalan dengan visi Poppy Dharsono, penggagas Piazza Firenze Garut. Menurut Poppy, kawasan ini sejak awal dirancang sebagai ruang kolaborasi dan apresiasi bagi kreativitas lokal, agar mampu tumbuh tanpa kehilangan akar budayanya.
“Kini mulai terlihat hasilnya. Pengunjung datang tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari mancanegara seperti Singapura,” kata Poppy.
Ia menegaskan, Piazza Firenze Garut hadir sebagai The House of Quality Fashion Leather sekaligus ruang keberlanjutan, tempat kreativitas lokal bertemu dengan selera global. Konsep tersebut diharapkan menjadi bagian dari langkah besar menjadikan Garut sebagai eco tourism city—daerah wisata berbasis lingkungan dan budaya.
Dalam pandangan Emil Salim, apa yang tumbuh di Garut hari ini adalah contoh bahwa kekuatan daerah tidak selalu lahir dari industri besar. Kreativitas masyarakat, jika dirawat dan diberi ruang, mampu menjadi identitas, kebanggaan, sekaligus daya saing Garut di mata dunia. ***



.png)


















