GOSIPGARUT.ID — Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di dua sekolah di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dihentikan untuk sementara waktu. Penghentian dilakukan menyusul belasan siswa dan guru dari dua sekolah itu dilaporkan terkonfirmasi positif Covid-19.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani, mengatakan, berdasarkan laporan terakhir yang diterimanya, terdapat 13 orang yang terkonfirmasi positif dari dua sekolah dasar di Kecamatan Cibalong itu. Sebanyak delapan orang adalah siswa dan lima orang merupakan guru.
“Hari ini masih dilakukan tracing dan testing,” kata dia, Kamis (10/2/2022).
Leli menjelaskan, temuan kasus Covid-19 di lingkungan sekolah itu berawal dari adanya satu orang yang bergejala. Setelah diperiksa dan menjalani pengetesan swab, siswa itu dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.
Setelah itu, tim survailans melakukan penelusuran kontak erat siswa itu. Hasilnya, ditemukan tambahan kasus di lingkungan keluarga dan sekolah siswa itu.
“Itu cukup banyak menyebarnya. Ke keluarga, tetangga, dan sekolah. Ini masih berkembang terus,” kata Leli.
Saat ini, aktivitas PTM di dua sekolah itu dihentikan selama 15 hari. Selama PTM dihentikan, petugas akan terus melakukan penelusuran. Sementara lingkungan sekolah akan disterilisasi.
Menurut Leli, para pasien Covid-19 di wilayah mayoritas tak bergejala atau bergejala ringan. Mereka masih menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing-masing.
“Kita sedang bujuk untuk isolasi ke rusun,” kata dia.
Leli mengakui, tempat isolasi terpusat di Rusunawa lokasinya cukup jauh dari Kecamatan Cibalong. Pemkab Garut sebenarnya sudah menyediakan tempat isolasi terpusat di wilayah selatan Garut itu. Namun, persiapan tempat itu untuk digunakan belum selesai.
Sementara itu, tempat isolasi di RSUD Pameungpeuk hanya untuk menangani pasien yang bergejala sedang hingga berat. Sedangkan untuk membuat tempat isolasi terpusat di kecamatan dirasa kurang efektif.
“Kan harus tetap ada pengawasan tenaga kesehatan juga. Kalau terlalu banyak tempat isolasi juga kasihan tenaga kesehatan, mereka juga banyak yang positif. Mangkanya kami bujuk ke rusun, sambil kami persiapkan tempat isolasi di selatan,” ujar dia.
Leli menyebutkan, hingga saat ini sudah cukup banyak bermunculan klaster penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah. Setidaknya, sudah ada lebih dari lima klaster sekolah yang muncul di Kabupaten Garut.
Kendati demikian, ia belum bisa memastikan keberadaan Covid-19 varian omicron di Kabupaten Garut. “Kemarin terakhir kami cek, masih Delta. Lama pemeriksaannya,” kata Leli.
Meski begitu, ia mengimbau masyarakat agar tetap taat menerapkan protokol kesehatan (prokes). Sebab, kasus Covid-19 di Kabupaten Garut terus mengalami peningkatan. (ROL)



.png)







