Berita

Jahe Rimpang dari Garut Mulai Mencuri Perhatian Pasar Luar Negeri

×

Jahe Rimpang dari Garut Mulai Mencuri Perhatian Pasar Luar Negeri

Sebarkan artikel ini
Jahe produksi Garut. (Foto: Zainulmukhtar)

GOSIPGARUT.ID — Kabupaten Garut dikenal dengan keunggulan produk hortikultura tanaman sayuran. Hasil panennya mampu memasok kebutuhan sayuran di Bandung serta kawasan Jabodetabek. Satu produk hortikultura lainnya kini mulai mencuri perhatian pasar luar negeri.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Beni Yoga menyebutkan, komoditas itu yakni tanaman jahe dalam bentuk rimpang segar. Permintaan jahe garut berdatangan dari sejumlah negara. Selain Timur Tengah, kawasan lain yang melirik prosuk ini yaitu kawasan anak benua Asia seperti Pakistan dan Bangladesh.

Namun, dia mengakui permintaan pasar ekspor negara-negara pemesan itu kerap tak terpenuhi karena keterbatasan produksi jahe yang tersedia. Ujungnya, ekspor jahe Garut masih dalam skala terbatas bahkan seringkali terhenti di tengah jalan.

Baca Juga:   Reses Legislator PDIP di Leles, Konstuen Minta Dibangunkan Sarana Infrastruktur

“Padahal, permintaan ekspor jahe Garut itu terbilang cukup besar. Jumlah bisa mencapai seratus ton,” kata Beni, Jumat (17/7/2020).

Sedangkan, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Garut Rahmat Jatnika mengatakan, salah satu keunggulan jahe Garut diminati pasar luar negeri karena posturnya besar, wangi, serta kandungan kurkumanya tinggi.

Dalam tiga tahun terakhir, kata dia, jahe diminati pasar ekspor terutama jenis jahe gajah. Sedangkan jenis jahe emprit dan jahe merah lebih banyak dikonsumsi pasar lokal untuk kebutuhan bumbu dapur dan bahan jamu tradisional.

Baca Juga:   Dipertanyakan Hilangnya Nama "Garut" dalam Proyek Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap

Rahmat menuturkan, penyebab masih terbatasnya jumlah produksi jahe itu mayoritas diakibatkan keterbatsan lahan. Selain itu, kebanyakan budidaya jahe di Garut masih dilakukan secara konvensional bergantung pada musim.

“Artinya, jahe hanya menjadi tanaman sela. Beda halnya dengan Thailand yang monokultur dengan penerapan teknologi yang bisa memanen produk jahenya kapan saja,” ujar dia.

Menurut Rahmat, pada 2019, produksi jahe berbagai jenis di Garut terhitung sebanyak 16.406,797 ton. Hasil panen itu dari lahan seluas 6.069.215 m2 yang tersebar di 36 kecamatan.

Baca Juga:   Diduga Terpapar Covid-19 dari Keluarga, Seorang Nakes di Garut Meninggal

Pada 2015, produksi jahe garut sempat mencapai 28.972,938 ton. Namun, jumlahnya terus merosot pada 2016 menjadi 21.510,710 ton dan pada 2017 hanya 13.380,728 ton.

“Namun, dalam dua tahun terakhir, produksi jahe kembali mengalami tren peningkatan menjadi sebanyak 14.406,797 ton pada 2018, dan 16.406,797 ton pada 2019,” terang Rahmat. (IK/Zainulmukhtar)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *