GOSIPGARUT.ID — Mutu pendidikan vokasi di Kabupaten Garut kembali mencuri perhatian internasional. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Garut tidak hanya terserap di pasar domestik, tetapi juga menjadi incaran perusahaan multinasional asal Jepang, Jerman, dan Korea. Keunggulan ini lahir dari sistem pembekalan terintegrasi melalui Bursa Kerja Khusus (BKK).
Kepala SMK Negeri 1 Garut, Dr. H. Asep Rudiana, M.Pd., mengungkapkan bahwa ketertarikan perwakilan perusahaan asing tersebut didorong oleh standar kompetensi lulusan yang matang. Sekolah secara proaktif membekali peserta didik dengan pelatihan bahasa asing serta pemahaman kultur negara tujuan.
”Tujuannya, jika siswa berminat kerja ke negara tersebut, mereka sudah memiliki keahlian dan tidak perlu kursus bahasa lagi,” ujar Asep dalam acara sosialisasi dan pembekalan siswa kelas XII Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Gedung Sasana, SMK Negeri 1 Garut, Kamis (29/10/2026).
Cetak Tenaga Profesional Lewat DKV
Dalam ekosistem industri modern, kebutuhan akan tenaga terampil di sektor kreatif kian mendesak. Asep menilai, Jurusan DKV merupakan salah satu bidang strategis yang menjawab tantangan zaman melalui penguasaan desain, fotografi, percetakan, hingga perfilman.
Menurutnya, siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah ini memiliki fleksibilitas karier yang tinggi. Selain siap bekerja di industri, mereka juga dibekali kapasitas untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau membangun kemandirian berwirausaha.
”Desain komunikasi visual salah satu jurusan di SMK Negeri 1 yang memiliki keahlian desain, fotografi, percetakan, perfilman yang sangat dibutuhkan dunia perusahaan saat ini seiring proses modernisasi,” tegasnya.
Praktik Kerja Lapangan Jadi Katalisator
Sebagai langkah konkret menghadapi dunia industri, siswa kelas XII diwajibkan menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama enam bulan penuh. Program ini dirancang bukan sekadar memenuhi syarat kelulusan dan komponen nilai rapor, melainkan instrumen utama pembentukan etos kerja, disiplin, dan tanggung jawab profesional.
Sebelum diterjunkan ke puluhan perusahaan mitra, para siswa telah melewati fase pembekalan teori secara komprehensif. Kendati demikian, Asep mengingatkan agar sinergi antara lembaga pendidikan dan orang tua berjalan optimal demi hasil yang maksimal selama masa PKL.
”Selama enam bulan siswa kelas XII harus melaksanakan PKL untuk mempraktekkan teori yang didapat selama pembelajaran di sekolah, melatih kedisiplinan, etos kerja, dan tanggung jawab. Untuk itu, diharapkan semua orang tua terlibat aktif membimbing anaknya, sebab bimbingan atau monitoring dari sekolah sangat terbatas,” kata Asep.
Evaluasi akhir pelaksanaan PKL akan ditentukan langsung oleh pihak perusahaan tempat siswa bekerja, yang kemudian diverifikasi kembali oleh pihak sekolah. Dengan standar ketat ini, SMK Negeri 1 Garut terus memantapkan posisinya sebagai pencetak tenaga kerja unggul yang siap bersaing di tingkat global. (Ai Karnengsih)





















