GOSIPGARUT.ID — Perjalanan panjang perjuangan pembentukan Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Kabupaten Garut Utara tidak hanya diwarnai oleh para tokoh yang berdiri di garis depan. Di balik rapat-rapat panjang, forum aspirasi masyarakat, hingga dinamika politik yang terus bergerak, ada sosok yang memilih berjalan dalam senyap sambil merawat jejak peristiwa melalui tulisan-tulisannya.
Sosok itu adalah Bambang Fouristian, wartawan sekaligus redaktur media daring Fokusjabar.id yang dinilai konsisten membersamai perjalanan perjuangan Garut Utara sejak fase awal aspirasi itu tumbuh di tengah masyarakat.
Bagi sebagian orang, perjuangan identik dengan orasi di podium, rapat besar, atau manuver politik di ruang kebijakan. Namun bagi Bambang, perjuangan hadir dalam bentuk yang berbeda: mencatat, mendokumentasikan, dan menyampaikan denyut peristiwa kepada publik melalui karya jurnalistik.
Di berbagai agenda perjuangan CDOB Garut Utara, ia lebih sering terlihat berada di belakang. Mengamati jalannya diskusi, menyimak dinamika yang berkembang, lalu merangkainya menjadi berita yang dapat dibaca masyarakat luas.
Ketika para pejuang pulang membawa lelah setelah forum dan pertemuan panjang, Bambang membawa pulang catatan-catatan peristiwa yang kemudian diolah menjadi dokumentasi perjalanan perjuangan.
Tulisan-tulisannya tidak sekadar menjadi berita harian. Lebih dari itu, karya jurnalistik tersebut ikut membangun perhatian publik terhadap aspirasi masyarakat Garut Utara.
Melalui pemberitaan yang konsisten, isu perjuangan CDOB Garut Utara perlahan menggema lebih luas. Percakapan masyarakat tumbuh. Perhatian publik meningkat. Bahkan, isu tersebut mulai menembus ruang-ruang kebijakan di tingkat daerah hingga provinsi.
Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Rd. H. Holil Aksan Umarzen, menilai peran wartawan memiliki posisi penting dalam menjaga denyut perjuangan masyarakat tetap hidup di ruang publik.
“Saya sangat menghargai peran wartawan dalam gerakan dan perjuangan. Karena perjuangan tanpa suara publik akan mudah hilang ditelan waktu,” ujar Holil dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).
Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi tersebut, PM Gatra memberikan julukan khusus kepada Bambang Fouristian sebagai “Sang Mata Pena Denyut Pergerakan Garut Utara.”
Menurut Holil, tidak semua pejuang harus berdiri di barisan depan. Sebagian memilih mengambil peran menjaga peristiwa agar tetap tercatat dan dapat dikenang dalam perjalanan sejarah daerah.
“Tidak berada di depan, tetapi jejak tulisannya melangkah jauh,” katanya.
Perjalanan panjang aspirasi Garut Utara sendiri telah melewati berbagai fase, mulai dari konsolidasi masyarakat, pembahasan tingkat daerah, dinamika politik di DPRD dan Pemerintah Kabupaten Garut, hingga perhatian di tingkat Jawa Barat dan nasional.
Dalam setiap fase tersebut, nama Bambang disebut kerap hadir sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan perjuangan. Melalui berita-beritanya, denyut aspirasi masyarakat Garut Utara dinilai tetap hidup dan terus bergema di tengah masyarakat.
Bambang Fouristian diketahui berasal dari Kampung Warung, Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut. Selain aktif sebagai wartawan, ia juga menjabat sebagai redaktur di Fokusjabar.id. ***



.png)











