GOSIPGARUT.ID — Warga Kampung Cibeureum, Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, hidup dalam keterisolasian selama puluhan tahun akibat akses jalan menuju ibukota kecamatan yang rusak parah dan tak kunjung tersentuh pembangunan.
Jalan sepanjang sekitar 7 kilometer itu menjadi satu-satunya jalur penghubung warga ke pusat layanan pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan. Kondisinya yang rusak berat membuat biaya operasional warga membengkak setiap kali harus keluar wilayah.
Yang lebih memprihatinkan, buruknya akses jalan kerap berujung pada tragedi kemanusiaan. Warga sakit dan ibu hamil berisiko tinggi disebut kerap meninggal dunia di perjalanan karena lambatnya akses menuju fasilitas kesehatan.
Dampak keterisolasian juga dirasakan anak-anak sekolah. Delapan siswa SMP Negeri 3 Cisompet asal Kampung Cibeureum terpaksa berangkat sebelum adzan subuh agar bisa tiba di sekolah tepat waktu. Dalam perjalanan panjang dan gelap gulita, mereka kerap tidak sempat sarapan. Salat subuh pun dilakukan di tengah jalan, di bawah ancaman binatang buas seperti ular, babi hutan, hingga harimau.
Pantauan di lapangan menunjukkan, sejumlah titik jalan tertutup kubangan lumpur bekas hujan yang membuat permukaan licin dan sulit dilalui. Kendaraan minibus dan pikap nyaris tak bisa melintas. Jalan hanya dapat dilewati truk dengan risiko kerusakan suku cadang yang tinggi.
Tak heran, ongkos ojek dari Kampung Cibeureum menuju ibukota kecamatan mencapai Rp 150.000 sekali jalan—angka yang memberatkan bagi warga desa.
Rusaknya akses transportasi juga memukul perekonomian warga. Harga hasil pertanian seperti pisang, kelapa, kapulaga, dan gula aren jatuh di tingkat petani, meski wilayah tersebut dikenal subur.
“Harga pisang di tingkat petani hanya Rp300 per kilogram. Kalau sampai ke jalan raya baru Rp1.500. Kondisi ini membuat petani enggan menjual hasil panen, bahkan memilih membuang atau mengonsumsi sendiri,” kata tokoh masyarakat Cibeureum, Eruh (50).
Ia mengaku kecewa karena harapan perbaikan jalan belum juga terwujud. Menurutnya, beberapa bulan lalu tim dari Bappeda dan PUPR sempat melakukan survei awal dan menjanjikan pengukuran lanjutan.
“Warga sudah gotong royong mengangkut batu kali, menutup lubang jalan, membersihkan dan menebangi pohon yang menghalangi badan jalan. Kami menunggu berjam-jam, tapi pihak PUPR tidak datang,” ujar Eruh dengan nada kesal.
Kondisi tersebut mengundang perhatian anggota DPR Provinsi Jawa Barat dari PKS, Ahab Sihabudin. Ia menyatakan keprihatinannya dan berjanji akan menyampaikan aspirasi warga agar akses jalan menuju Kampung Cibeureum mendapat prioritas pembangunan.
Kisah Kampung Cibeureum menjadi potret ketimpangan pembangunan infrastruktur di wilayah selatan Garut—di mana jalan rusak bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan menyangkut keselamatan, pendidikan, dan masa depan warga desa. (Ai Karnengsih)



.png)


















