GOSIPGARUT.ID — Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya merespons kritik sejumlah ahli gizi terkait munculnya menu spageti dan hamburger dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan menu internasional tersebut bukanlah hidangan rutin, melainkan permintaan khusus dari siswa yang diperbolehkan sekali dalam seminggu.
“Mohon maaf ada yang mengkritik, ‘Masa ada spageti? Masa ada burger?’ Itu tidak setiap hari. Anak-anak diberi kesempatan request agar tidak bosan makan nasi,” ujar Nanik saat ditemui di Jakarta, Jumat (27/9).
Menurut Nanik, spageti dan burger merupakan bentuk kreativitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Ia menyebut, variasi menu ini muncul karena sebagian siswa, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), hanya mengetahui makanan tersebut dari televisi dan YouTube, sehingga penasaran untuk mencoba.
“Kalau anak-anak ingin makan sesuatu, seminggu sekali boleh request. Itu supaya tidak monoton, tapi bukan berarti tiap hari kita sajikan spageti atau burger,” imbuhnya.
Kritik Ahli Gizi
Polemik ini mencuat setelah Ahli Gizi Tan Shot Yen mengkritisi kehadiran menu non-lokal dalam program MBG. Ia menekankan, seharusnya 80 persen menu berbasis pada makanan lokal, seperti ikan kuah asam di Papua atau kapurung khas Sulawesi..
Menanggapi kritik tersebut, BGN menegaskan tetap berkomitmen pada penggunaan bahan dan menu lokal sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Menu internasional, kata Nanik, hanya berfungsi sebagai variasi mingguan agar siswa tidak bosan.
“Kami tetap utamakan makanan lokal. Spageti dan burger hanya contoh kreativitas, bukan menu pokok,” tegasnya. ***



.png)












