GOSIPGARUT.ID — Aktivis, pejuang, dan ulama peletup semangat rakyat dalam Tragedi Tasikmalaya 1996, Ajengan Mimih Haeruman, telah berpulang ke rahmatullah. Innalillahi wa innailaihi roji’un, dunia pergerakan kehilangan satu lagi api perjuangannya.
Di tengah dinginnya pagi, Minggu 8 Juni 2025, tepat pukul 04:30 WIB, Rumah Sakit Jantung Tasikmalaya menjadi saksi senyap dari kepulangan seorang pejuang. Kang Mimih — begitu ia dikenal — mengembuskan napas terakhirnya, menutup lembar pengabdiannya dengan kehormatan yang hanya bisa diberikan oleh sejarah.
Ia bukan sekadar ulama dan pimpinan Pondok Pesantren Manuk Heulang, tapi Ajengan Mimih Haeruman adalah naga hijau, simbol perlawanan dari Tasikmalaya yang bergema hingga ke seluruh Tatar Sunda.
Namanya tak bisa dilepaskan dari Tragedi Tasikmalaya 1996 — peristiwa heroik yang meledakkan kesadaran kolektif rakyat terhadap rezim otoritarian Orde Baru. Di tengah bara kemarahan massa yang memuncak, Kang Mimih berdiri gagah di bawah Patung Macan, ikon Kota Tasikmalaya.
Ia bukan sekadar orator, tapi pemantik ledakan sejarah. Dalam lantang suaranya Mimih menyatakan: “Pemimpin sejati adalah yang membebaskan bangsanya dari belenggu ketakutan dan kesewenang-wenangan!” Maka Tasik pun marah dan merah. Ledakan itu bukan sekadar amarah, tapi pertanda lahirnya gelombang baru menuju Reformasi 1998.
Tak banyak yang tahu bahwa Kang Mimih juga adalah figur sentral dalam dunia pergerakan mahasiswa di Tatar Priangan. Ia menjabat sebagai Sekretaris Umum PMII Cabang Garut mendampingi Galih F. Qurbany sebagai Ketua Umum PMII periode 1994–1997, sebuah formasi yang dikenal sebagai salah satu sentrum pergerakan terkuat di Jawa Barat kala itu.
Duet Mimih dan Galih tak hanya mengguncang ruang-ruang diskusi dan forum mahasiswa, tetapi juga menjadi motor penggerak aksi, pemikiran, dan lompatan strategis yang mendorong demokratisasi dari bawah.

Di masanya, PMII Garut tak ubahnya dapur ideologi dan kawah candradimuka bagi kader-kader pergerakan. Kang Mimih tak hanya dikenal sebagai organisator ulung, tapi juga penghubung spiritual dan ideologis antarbarisan. Ia mewakili wajah aktivisme yang menyatu dengan nilai, perlawanan yang berdiri di atas fondasi moral. Maka tak heran jika kemudian Mimih turut mewarnai gelombang besar gerakan mahasiswa 1998 yang menjatuhkan rezim Soeharto dan membuka gerbang Reformasi.
Kini, Kang Mimih telah kembali kepada Sang Pemilik Hidup, tapi ia tidak benar-benar pergi.
Api yang ia nyalakan tetap menyala dalam dada kami, dalam semangat generasi yang tak ingin lupa pada sejarah, dalam mimpi-mimpi keadilan yang belum selesai. Kang Mimih bukan sekadar nama, ia adalah lambang: lambang bahwa melawan kezaliman adalah jalan spiritual tertinggi, bahwa orasi bisa menjadi dzikir jika diniatkan untuk kebenaran, dan bahwa seorang pejuang bisa wafat, tapi perjuangan tak pernah padam.
Selamat jalan, Ajengan Mimih Haeruman.
Engkau telah menjalani tugasmu di bumi dengan penuh keberanian. Kini Tuhan memanggilmu pulang. Semoga surga menjadi tempat istirahatmu yang abadi — tempat bagi mereka yang tak gentar berdiri di hadapan kezaliman, tempat bagi para pecinta kebenaran.
Dan kami, yang ditinggalkan, akan terus menjaga nyala itu. Karena engkau telah menunjukkan: hidup bukan tentang lamanya waktu, tapi tentang dalamnya makna.
Ditulis sebagai penghormatan untuk KH. Mimih Haeruman — pejuang demokrasi, Sekretaris Umum PMII Garut 1994–1997, naga hijau Tasikmalaya, dan guru umat yang tak pernah lelah menggelorakan kebenaran. ***



.png)









