oleh

Wartawan Kelahiran Garut Ini Kini Jadi Owner “Media Pakuan”

GOSIPGARUT.ID — Mengenal sarjana komunikasi dari Universitas Islam Bandung Unisba) ini sekitar tahun 1992 ketika menjadi wartawan di Harian Umum (HU) Mandala. Ketika itu, pria kelahiran Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, tersebut ditugaskan oleh surat kabar Mandala untuk meliput aneka peristiwa yang terjadi di Kabupaten Garut.

Sebagai sesasama jurnalis yang bertugas di daerah yang sama, dengannya sering melakukan peliputan di lapangan bareng-bareng. Selama bertugas, ia tidak pernah mengeluh sekalipun menghadapi berbagai rintangan dan hal pahit. Bahkan ia selalu menyemangati kalau bekerja itu harus selalu bergairah dan bahagia agar tubuh tetap sehat.

Selalu memanggil nama pria berkacamata minus ini dengan sebutan “Raya”. Panggilan tersebut sengaja dipakai untuk menyingkat namanya dari nama lengkap Ahmad Rayadi, lahir pada tanggal 12 Desember 1969. Di HU Mandala ia bekerja sampai tahun 1994. Setelah itu, selama setahun, Raya bekerja di Tabloid Hikmah (Grup Pikiran Rakyat).

Selepas di Tabloid Hikmah, mendengar kabar bahwa Raya berpindah tempat tinggal dari Kabupaten Garut ke Kota Sukabumi. Saat ditelisik soal kepindahannya itu, didapatkan informasi ternyata ia ditugaskan di surat kabar yang masih grup Pikiran Rakyat, yakni Surat Kabar Pakuan.

“Di Surat Kabar Pakuan saya bekerja antara tahun 1995 sampai 1999. Dari tahun 1999 sampai sekarang saya ditugaskan di HU Pikiran Rakyat dengan daerah peliputan Kota Sukabumi,” papar Raya, saat ditanya terkait perjalanan kariernya di dunia jurnalistik pasca kepindahannya dari Kabupaten Garut.

Baca Juga:   Mengenal Perintis Toko Optik A Kasoem yang Kelahiran Garut Itu

Ia menerangkan kisah duka selama bertugas di Kota Sukabumi. Di antaranya waktu meliput tragedi kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di sekitar Gunung Salak, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, pada Mei 2012.

“Saat meliput peristiwa itu saya mengalami nasib naas. Di mana, motor matic yang saya gunakan dalam peliputan harus tersungkur masuk parit ketika mengikuti proses evakuasi korban jatuhnya pesawat. Engsel tangan kiri terseger sehingga memaksa harus turut dievakuasi petugas TNI ke posko keselamatan,” ujar Raya.

Baca Juga:   Guru Honorer Ini Sukses Bisnis Gula Semut dengan Keuntungan Rp2 Juta/Minggu

Ia menambahkan, dengan kecelakaan tersebut, tentunya Raya bukannya meliput proses evakuasi korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, tetapi malah ia mengerang kesakitan dan akhirnya harus dipijit dan berobat ke ahli tulang.

Ahmad Rayadi di tengah-tengah para wartawan yang sedang bertugas. (Foto: Istimewa)

“Hal menyenangkan selama bertugas jadi wartawan adalah ketika hasil liputan memperoleh respon dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Kebahagiaan itulah yang menjadi buah dari perjuangan para jurnalis,” kata ayah dari dua anak ini.

Baca Juga:   Laras, Protokoler Muda Pemkab Garut yang Terwarisi Bakat "Public Speaking" dari Ibunya

Selain masih bekerja di HU Pikiran Rakyat, saat ini Raya pun menjadi owner (pemilik) dari salah satu media online yang berkantor di Kota Sukabumi, bernama “Media Pakuan”.

Ada kebanggaan tersendiri yang dirasakan wartawan yang pernah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Sukabumi selama dua periode (2002 – 2009) ini. Di mana, kedua anak dan istrinya mengikuti jejak Raya terjun di dunia jurnalistik.

Si sulung — Mitha Faradilla Rayadi, kini menjadi wartawati di Pikiran Rakyat Media Network; dan si bungsu — Adi Ramadhan yang kini masih kuliah semester 6 telah menjadi editor di Media Pakuan (Grup Pikiran rakyat).

“Begitu juga dengan istri saya, Poppy Siti Sopiah, menjadi editor Media Pakuan,” pungkas Raya. (Ade CSK)

Komentar