GOSIPGARUT.ID — Antrean mengular di selasar Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Cempaka, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, sering kali menjadi panggung letupan emosi. Di gardu terdepan layanan publik ini, prasangka soal pelayanan yang lelet hingga tuntutan surat rujukan instan kerap berbenturan keras dengan sistem medis.
Menghadapi tensi tinggi saban hari, Kepala Puskesmas Cempaka, Hj. Husnul Khotimah, mengambil garis tegas: keluhan warga bukanlah kerikil pengganggu, melainkan utang pelayanan yang wajib dilunasi hingga tuntas.
Triase vs Ekspektasi Cepat
Akar ketegangan di fasilitas kesehatan primer kerap bersumber dari benturan antara ekspektasi warga dan prosedur standar medis. Banyak pasien menuntut penanganan seketika tanpa memahami mekanisme triase—pemilahan prioritas berdasarkan tingkat kegawatan jiwa, bukan nomor urut kedatangan.
”Kebanyakan keluhan itu karena keinginan dilayani secepatnya. Padahal ada antrean dan kondisi gawat darurat yang harus didahulukan. Jika kondisinya memungkinkan untuk menunggu, kami jelaskan sesuai SOP. Jika tidak, pasien langsung dialihkan ke IGD,” kata Husnul saat ditemui di kantornya, Selasa, 29 September 2026.
Puskesmas Cempaka menerapkan skema respons berlapis. Petugas pengaduan menjadi benteng pertama untuk memberikan penjelasan teknis. Namun, jika suhu emosi warga tak kunjung mereda, pimpinan fasilitas akan turun langsung memediasi.
Husnul mengenang insiden ketika seorang pasien nekat kabur dan memprotes pelayanan karena merasa penyakitnya parah, padahal indikasi medis menunjukkan kondisinya relatif stabil dan aman untuk menunggu giliran.
Jemput Bola Hingga ke Ambang Pintu
Tak ingin kesalahpahaman berbuntut panjang atau membahayakan keselamatan jiwa, Husnul memimpin langkah ekstrem: home visit atau kunjungan rumah. Jika ada pasien yang pulang dalam keadaan emosional, tim medis dikerahkan langsung ke rumah warga dengan membawa perbekalan obat serta tenaga medis.
Langkah jemput bola ini dilakukan untuk memutus rantai miskomunikasi sekaligus meredakan amarah warga secara bertatap muka.
”Masyarakat itu tidak semua berniat buruk, mungkin hanya beda pemahaman. Kita harus menganggap keluhan ini sebagai tugas yang harus diselesaikan, bukan sekadar masalah. Kalau dianggap masalah, kita akan pusing. Tapi kalau dianggap tugas, kita akan cari solusinya,” ujar Husnul.
Meredam Tuntutan Rujukan “Atas Kepentingan Pribadi”
Sumber gesekan lain yang tak kalah sengit adalah prosedur rujukan berjenjang ke rumah sakit. Tak sedikit warga memaksakan diri meminta rujukan atas kemauan pribadi, sekalipun penyakit yang diderita masih dalam batas kewenangan penanganan medis tingkat primer.
Husnul menegaskan, aturan rujukan terkunci rapat oleh regulasi dan kewenangan klinis dokter, bukan desakan pasien ataupun intervensi struktural.
”Bahkan jika saya sebagai Kepala Puskesmas, saya tidak bisa sembarangan merujuk jika secara medis pasien masih bisa ditangani oleh dokter atau bidan di sini. Ada aturan dan SOP-nya. Kami jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti agar tidak timbul emosi,” tegasnya.
Lewat kombinasi komunikasi yang persuasif, ketegasan regulasi, dan keberanian memasang badan hingga ke rumah warga, Puskesmas Cempaka berusaha meruntuhkan tembok ketidakpercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan tingkat dasar. (Yuyus)



.png)





