Berita

Pasar Ekspor Jahe Garut Masih Terbuka Luas

×

Pasar Ekspor Jahe Garut Masih Terbuka Luas

Sebarkan artikel ini
Tanaman jahe pada polybek. (Foto: Istimewa)

GOSIPGARUT.ID — Jahe termasuk komoditas hortikultura bernilai ekonomi cukup tinggi sebab memiliki banyak manfaat. Mulai sebagai bahan baku pembuatan minuman penghangat, bumbu dapur, penambah rasa atau penyedap makanan hingga bahan baku herbal.

Jahe merupakan salah satu jenis tanaman obat unggulan Kabupaten Garut. Salah satu kelompok tani yang telah membudidayakan tanaman jahe terutama jahe gajah terdapat di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Cilawu tepatnya di Kelompok Tani Pasir Damang.

“Desa Pasanggrahan, Kecamatan Cilawu merupakan sentra jahe yang berada di bawah kaki gunung Cikuray, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya,” kata penyuluh pertanian Kecamatan Cilawu, Dani.

Baca Juga:   Legenda Persib 1994/1995 Akan Tour ke Garut, Majalengka, dan Pelabuhanratu

Luas lahan yang ditanami jahe selalu menunjukan peningkatan seiring minat para petani yang makin tinggi karena lebih menguntungkan. “Sebagian besar budidaya jahe ditanam dengan sistem tumpangsari jagung, jahe dan kacang tanah, padahal masih terbuka luas untuk menambah luasan tanam,” ujar Dani.

Pintu gerbang ekspor jahe melalui Sub Terminal Agrobisnis (STA) Bayongbong. Biasanya para pelaku eksportir tidak langsung melakukan pengiriman, terlebih dulu dibersihkan, dijemur, disortir, ditimbang, serta dikemas sebelum dikirim ke luar negeri agar kualitas jahe tetap terjamin.

Peluang untuk ekspor masih terbuka luas, permintaan jahe saat ini terutama berdatangan dari sejumlah negara. Di antaranya Bangladesh, Pakistan, Belanda dan Brunei Darussalam. “Pembeli luar negeri lebih tertarik jahe dari Garut bila dibandingkan jahe dari Vietnam dan Thailand. Ini disebabkan kandungan minyak atsiri, pati dan serat jahe Garut lebih baik,” ungkap Khaerul Zakaria, Manajer Pengelola STA Bayongbong.

Baca Juga:   Viral Ruang Kelas Dipenuhi Kotoran Kelelawar, DPRD Garut Desak SDN 1 Sukanagara Segera Direhabilitasi

Rimpang jahe yang akan diekspor ini dihimpun dari sentra-sentra produksi seperti Kecamatan Wanaraja, Cilawu, Bayongbong, Caringin, Pameungpeuk, Bungbulang, dan Pasirwangi.

“Aktivitas ekspor jahe Garut, untuk sementara di 2018 tidak ada. Ini karena minimnya pasokan jahe dari Garut, sementara persyaratan pembeli luar negeri mewajibkan 1.000 ton per tahun. Sebelumnya 2016 dapat mengekspor jahe sebanyak 1.000 ton dan 2017 sebanyak 1.500 ton. Saat ini harga jahe di tingkat pasar lokal Garut berkisar Rp 20 – 25 ribu per kilogram, sayangnya sudah masuk jahe dari Vietnam dan Thailand,” ujar Khaerul.

Baca Juga:   12 Calon Kepala Dinas di Pemkab Garut Dinyatakan Tidak Bergejala Gangguan Jiwa

Salah satu tantangan dalam merespon permintaan untuk ekspor jahe adalah masih terbatasnya kawasan jahe di Garut. Menurut Data BPS Garut 2017 kawasan jahe di wilayah ini mencapai 508 Ha. (ROL/Fj)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel Iklan
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *