GOSIPGARUT.ID — Pengelolaan sampah di Kantor Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, berhasil menjelma jadi contoh inovasi lingkungan yang komprehensif. Bukan sekadar bersih-bersih, sampah diolah untuk mendukung sektor peternakan, perikanan, hingga pertanian.
Padahal, area yang kini produktif itu dulunya hanya gudang barang bekas penuh tikus. Kini, tempat tersebut berubah menjadi sentra pengolahan sampah terintegrasi, mulai dari kompos, pupuk cair organik, budidaya maggot, cacing, ayam kampung, ikan lele, hingga tanaman obat dan sayuran.
Camat Cisurupan, Mamun, menjelaskan bahwa ide ini lahir dari keprihatinan terhadap tumpukan sampah. Ia ingin mengubah masalah menjadi berkah melalui pendekatan reduce, reuse, recycle (3R).
“Ide awalnya bagaimana sampah bisa dikelola secara terintegrasi. Dari awal kita pilah, lalu dimanfaatkan kembali. Hasilnya, bisa mendukung ketahanan pangan sekaligus mengurangi sampah plastik,” kata Mamun, Kamis (4/9/2025).
Di area depan kantor, puluhan tanaman obat, bawang, stroberi, hingga jeruk tumbuh subur dengan pupuk organik hasil olahan sampah. Sementara di belakang, sampah organik diolah menjadi maggot yang kemudian dipakai sebagai pakan ayam kampung dan lele.
“Biasanya peternak terbebani biaya pakan yang mahal. Di sini, kita memanfaatkan sisa makanan untuk pakan. Jadi biaya lebih hemat, hasil tetap optimal,” ujarnya.
Dalam tiga bulan berjalan, hasilnya cukup menjanjikan. Kantor Kecamatan Cisurupan sudah bisa menjual 200 kilogram ayam kampung dan memanen 1.190 ekor lele dari kapasitas 5.000 ekor.
Ke depan, Mamun menargetkan produk turunan seperti maggot, cacing tanah, hingga larva bisa dijual lebih luas, baik secara online maupun langsung di lokasi budidaya.
“Kami ingin ini jadi contoh nyata pemberdayaan masyarakat. Kalau desa-desa lain bisa meniru, sampah tidak lagi jadi masalah, tapi berkah yang menyehatkan lingkungan sekaligus menguntungkan,” pungkasnya. (Ai Karnengsih)



.png)























