oleh

Zakki Resmana Saleh, dari Bupati Bianglala Hingga Pengawas PDAM

GOSIPGARUT.ID — Nama Zakki Resmana Saleh begitu populer di tengah warga Garut. Pasalnya, pria humoris ini merupakan host di sebuah radio ternama di Kota Dodol, Reks FM. Apalagi acara yang dibawakannya itu sangat digandrungi banyak kalangan, “Bianglala Pagi”. Sebuah acara interaktif yang mengemas antara dialog, berita, dan musik.

Dengan acara itu pula, penyiar radio senior serba bisa yang juga wartawan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang lahir dari perut orba (orde baru) tersebut, dinobatkan oleh pemirsa radio sebagai “Bupati Bianglala”. Jika sedang membawakan acara, sang Bupati yang satu ini pun dikenal kritis.

Merunut perjalanan karier Bang Zakki — demikian biasa ia dipanggil — sebagai angkasawan radio, sebenarnya dimulai bukan di Garut, melainkan di Kabupaten Sukabumi. Waktu itu tahun ’80-an, ia bekerja sebagai penyiar di Radio Airlangga. Kemudian, pada tahun 1982, Zakki pindah ke Garut. Ia bekerja di Radio Reks saat masih beralamat di Jalan Gunung Payung.

“Saat pindah ke Garut, kalau tidak salah pada bulan September 1982. Saat itu di Jalan Ahmad Yani penuh dengan debu letusan Gunung Galunggung. Kota Garut terasa mencekam, karena siang dan malam tidak ada bedanya, serba gelap,” kenang Zakki, saat dimintai mengisahkan perjalanan hidupnya, Jum’at (27/9/2019).

Baca Juga:   Pipa PDAM Garut Keropos, Pendistribusian Air Terhambat

Ia melanjutkan, begitu bekerja di Radio Reks, Zakki langsung diberi tugas untuk mewawancarai penyanyi dangdut legendaris, Mansyur S. Saat itu Mansyur sedang mempromosikan lagu “Khana”, yang kemudian lagu tersebut sukses di pasaran.

“Saat itu saya membawakan acara musik dangdut yang bertajuk ‘Mari Berdendang Sayang’. Tetapi selain acara musik dangdut, saya juga suka membawakan acara dongeng Sunda,” terang Zakki.

Zakki Resmana Saleh bersama Bupati Garut Rudy Gunawan. (Foto: Istimewa)

Dongeng Sunda yang dibawakan “Mang Zeki” itu pun sukses merebut hati pendengarnya. Dua judul dongeng Sunda yang sangat digandrungi masyarakat ketika itu adalah “Sulit Ati Belang Bayah” dan “Mardi Pemuda Desa” karangan Wahyu.

Ada salah seorang pendengar setia dongeng Sunda yang dibawakan “Mang Jeki” yang sampai sekarang tidak bisa melupakannya. Pendengar dimaksud adalah Aah, Kepala Dinas Kebakaran Garut. “Sampai sekarang Pak Aah masih ingat cerita ‘Mardi Pemuda Desa’. Padahal saya sendiri yang jadi juru dongengnya sudah lupa,” kata Zakki setengah berkelakar.

Di Radio Reks, Zakki bekerja sungguh borongan. Faktanya, selain mengasuh acara musik dangdut, acara dongeng Sunda, ia juga bekerja sebagai reporter yang bertugas mengumpulkan bahan informasi di lapangan untuk ia siarkan pada acara berita Radio Reks.

Baca Juga:   Mantan Ketua DPRD Garut Kembali Bertarung di Dapil IV

“Nah, karena terjun di reporter itu pun, saya akhirnya diangkat menjadi reporter daerah Jurnal PRSSNI Jawa Barat dari tahun 1995 sampai 1998. Sejak itu pula saya bergabung menjadi anggota PWI,” ungkap Zakki.

Masa orde reformasi rupanya merupakan masa sibuk bagi pria berusia berkepala enam ini. Selain sibuk dengan pekerjaannya sebagai pembawa acara radio, Zakki pun disibukan dengan urusan study. Di mana akhirnya ia mampu meraih gelar S1 (sarjana hukum) dari STHG dan S2 (magister hukum) dari Unisba dengan IPK sangat memuaskan.

“Dulu (tahun 1983), saya juga sempat kuliah di STKIP jurusan Bahasa Inggris. Namun karena kesibukan, kuliah hanya sampai tingkat tiga (tahun 1985),” ujar Zakki.

Zakki Resmana Saleh, SH, MH. (Foto: Istimewa)

Sejak masa reformasi juga, lanjut dia, Zakki aktif di berbagai komunitas dan kegiatan. Bahkan pada 2004 ia menjadi anggota Panwaslu Kabupaten Garut, tahun 2008 sebagai anggota Panwas Pilgub, dan tahun 2013 menjadi Komisioner KPU Garut.

Di organisasi Zakki menjadi sekretaris Forum Kabupaten Garut Sehat yang dijabatnya pada periode 2011 sampai 2021. Lalu di Konida Garut, jabatan yang pernah diembannya yakni sekretaris II. “Saya juga hingga kini masih tercatat sebagai dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi Uniga dan STHG,” ujarnya.

Baca Juga:   Euis Ida Artiah akan Dilantik sebagai Ketua DPRD Perempuan Pertama di Garut

Sekarang, di usianya yang menjelang senja, malah ia mendapat kepercayaan lagi menjadi Dewan Pengawas di Perumda (PDAM) Tirta Intan Garut. Dengan tugas yang diembannya sejak Agustus 2019 ini, tentunya bukan tugas yang cukup ringan. Sebab ia harus terlibat ikut menyehatkan kembali Perumda Tirta Intan yang kondisinya kurang sehat.

“Itu menurut penilaian Badan Peningkatan Penyelengaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) bahwa kondisi PDAM Garut dalam keadaan kurang sehat,” ucap Zakki.

Ia mengaku, diberikan target oleh bupati selaku KPM untuk menyehatkan Perumda dengan mengoptimalkan pengawasan perusahaan, membina dan memberikan nasihat kepada direksi dan melaporkan hasil pengawasan kepada bupati sebagaimana amanat Pasal 14 Perda No. 8 Tahun 1918 Tentang Perusahaan Umum Daerah.

“Kami baru bekerja hampir tiga bulan, sudah sembilan kali melakukan rapat internal dan rapat pembinaan terhadap jajaran direksi PDAM yang hasilnya dilaporkan kepada bupati/KPM,” jelas wartawan yang pernah berprestasi pada Powarnas 2017 sebagai juara catur kelas cepat antar wartawan se-Indonesia. (Fridealis Journal)

Komentar

Berita Terkait